Jumat, 30 Desember 2016

Kuasa Allah

Seseorang lelaki yg baru menikah pulang  bersama istrinya. Mereka menyebrangi sungai memakai satu perahu kecil, mendadak badai besar nampak. Lelaki itu seorang pejuang, ia terlihat tenang. Tetapi istrinya terlihat demikian ketakutan lantaran tak terbiasa dengan situasi yang mencekam.

Karena Yang mereka tumpangi berdua satu perahu kecil, sedang badai demikian besar. Dengan keadaan demikian mereka mungkin tenggelam kapanpun. Namun lelaki itu duduk diam serta tenang seperti tak terjadi apa pun.

 Sembari gemetar istrinya ajukan pertanyaan, “Tidakkah anda takut? Ini mungkin saja waktu terakhir dalam kehidupan kita! Kita mungkin saja tidak akan hingga ke tepian. Cuma keajaiban yang dapat menyelamatkan kita, tanpa itu tentu kita bakal mati. Apakah anda tidak takut? Mengapa kamu diam seperti batu? ”

Lelaki itu tersenyum serta mengeluarkan pedang dari sarungnya. Istrinya lebih bingung dibuatnya. “Apa yang dilakukannya? ”, fikirnya dalam hati.

Tidak lama kemudian, lelaki itu menempelkan pedang di dekat leher istrinya, cuma ada sedikit celah hingga pedang itu benar-benar melekat pada leher istrinya.

Lelaki itu ajukan pertanyaan, “Apa kamu takut? ”

Istrinya tertawa serta menyahut, “Buat apa saya takut? Bila pedang itu ada di tanganmu, buat apa saya takut? Saya tau anda mencintai saya. ”

Lelaki itu menyimpan kembali pedangnya serta menjelaskan, “Itulah jawabanku. Saya tau Allah mencintaiku, serta badai ini ada di genggaman-Nya. Karenanya, apa pun yang terjadi pastinya baik. ”

Allah subhanahu wa ta’ala berfirman dalam al Qur’an :

“Boleh jadi anda membenci suatu hal, walau sebenarnya ia sangat baik bagimu, serta bisa jadi (pula) anda menyukai suatu hal, walau sebenarnya ia sangat buruk bagimu ; Allah tahu, sedang anda tak tahu. ” (2 : 216)

Sungguh, kepercayaan kita pada pasangan yaitu sumber ketenangan dalam mengarungi kehidupan rumah tangga. Bila memanglah suami kita orang shalih, insha Allah tidak akan beresiko pisau ditangannya. Kepercayaan ini yaitu kepercayaan yang sesuai dengan fitrah. Selama ia masihlah ada, serta disandarkan pada object yang pas, kepasrahan yaitu kebahagiaan seutuhnya.

Senin, 19 Desember 2016

Pertanyaan Atheis tentang pencipta Allah

"Siapa yang menciptakan Allah?" Pemuda Ini Menjawab hingga Atheis tak berkutik

Ada seorang Atheis yg memasuki sebuah masjid, dia mengajukan 3 pertanyaan yg hanya boleh dijawab dengan akal. Artinya tidak boleh dijawab dengan dalil, karena dalil itu hanya dipercaya oleh pengikutnya, jika menggunakan dalil (naqli) maka justru diskusi ini tidak akan menghasilkan apa-apa...

Pertanyaan atheis itu adalah:

1. Siapa yg menciptakan Allah?? Bukankah semua yg ada di dunia ada karena ada penciptanya?? Bagaimana mungkin Allah ada jika tidak ada penciptanya??

2. Bagaimana caranya manusia bisa makan dan minum tanpa buang air?? Bukankah itu janji Allah di Syurga?? Jangan pakai dalil, tapi pakai akal....

3. Ini pertanyaan ketiga, kalau iblis itu terbuat dari Api, lalu bagaimana bisa Allah menyiksanya di dalam neraka?? Bukankah neraka juga dari api??

Tidak ada satupun jamaah yg bisa menjawab, kecuali seorang pemuda.

Pemuda itu menjawab satu per satu pertanyaan sang atheis :

1. Apakah engkau tahu, dari angka berapakah angka 1 itu berasal?? Sebagaimana angka 2 adalah 1+1 atau 4 adalah 2+2?? Atheis itu diam membisu..

"Jika kamu tahu bahwa 1 itu adalah bilangan tunggal. Dia bisa mencipta angka lain, tapi dia tidak tercipta dari angka apapun, lalu apa kesulitanmu memahami bahwa Allah itu Zat Maha Tunggal yg Maha mencipta tapi tidak bisa diciptakan??"

Saya ingin bertanya kepadamu, apakah kita ketika dalam perut ibu kita semua makan? Apakah kita juga minum? Kalau memang kita makan dan minum, lalu bagaimana kita buang air ketika dalam perut ibu kita dulu?? Jika anda dulu percaya bahwa kita dulu makan dan minum di perut ibu kita dan kita tidak buang air didalamnya, lalu apa kesulitanmu mempercayai bahwa di Syurga kita akan makan dan minum juga tanpa buang air??

3. Pemuda itu menampar sang atheis dengan keras. Sampai sang atheis marah dan kesakitan. Sambil memegang pipinya, sang atheis-pun marah-marah kepada pemuda itu, tapi pemuda itu menjawab : "Tanganku ini terlapisi kulit, tanganku ini dari tanah..dan pipi anda juga terbuat dari kulit dari tanah juga..lalu jika keduanya dari kulit dan tanah, bagaimana anda bisa kesakitan ketika saya tampar?? Bukankah keduanya juga tercipta dari bahan yg sama, sebagaimana Syetan dan Api neraka??

Sang athies itu ketiga kalinya terdiam...

Sahabat, pemuda tadi memberikan pelajaran kepada kita bahwa tidak semua pertanyaan yg terkesan mencela/merendahkan agama kita harus kita hadapi dengan kekerasan. Dia menjawab pertanyaan sang atheis dengan cerdas dan bernas, sehingga sang atheis tidak mampu berkata-kata lagi atas pertanyaannya..

Itulah pemuda yg Islami, pemuda yg berbudi tinggi, berpengtahuan luas, berfikiran bebas...tapi tidak liberal... tetap terbingkai manis dalam indahnya Aqidah...

Ada yg berkata bahwa pemuda itu adalah Imam Abu Hanifah muda. Rahimahullahu Ta'ala...

cr: muslimah