Jumat, 23 Oktober 2015

Kisah lalat dan semut

Pada tong sampah yang berada tepat di depan sebuah rumah terlihat sekelompok lalat yang beterbangan sambil menikmati santapannya. Beberapa ekor diantara lalat-lalat tersebut terkadang ada yang secara tidak sengaja masuk ke dalam rumah dan terkurung di dalamnya karena mencoba mencari makanan lainnya yang ada di dalam rumah.

“Saya merasa sangat bosan dengan sampah-sampah tersebut, sekarang saatnya menikmati makanan segar dan lebih lezat!”, kata seekor lalat yang berhasil masuk ke dalam rumah. Ternyata, pintu rumah di tutup oleh tuan rumah, maka lalat tersebut terjebak di dalam ruangan tempat ia mendapatkan santapan yang katanya lezat itu. Kemudian si lalat terbang kesana kemari berjuang agar bisa keluar dari rumah tersebut. Dan akhirnya, ia hanya bisa terbang menuju kaca jendela rumah tersebut yang tidak terdapat rongga untuk membuat si lalat kembali bebas ke luar. Sejenak seekor lalat yang terjebak itu terdiam sambil melihat teman-temannya yang melambaikan tangan dan mengajaknya untuk kembali menikmati santapan bersama yang berada di tong sampah depan rumah itu.

Dengan berjuang sekuat tenaga, si lalat hanya bisa terbang di sekitar kaca. Terbang dan menabrak kaca, terus berusaha ke sisi lainnya dengan seperti itu. Terus dan terus secara berulang-ulang ia lakukan agar dirinya bisa bebas kembali bersama teman-temannya di luar sana. Tanpa disadari, senja pun datang dan semakin malam. Lalat yang terjebak itu hanya melihat kegelapan di luar sana dan tidak lagi melihat keberadaan teman-temannya dari balik kaca. Perlahan, ia mulai lemas dan akhirnya mati.

Beberapa saat kemudian, tidak jauh dari keberadaan si lalat yang sudah mati itu nampak segerombolan semut merah yang berjalan beriringan keluar dari sarangnya untuk mencari makan. Dan ketika mereka menjumpai lalat yang sudah tidak berdaya itu, dengan kekompakan mereka langsung mengerumungi dan menggigiti tubuh lalat itu hingga mereka dapat memastikan bahwa si lalat benar-benar mati. Setelah si lalat mati, segerombolan semut itupun mengangkut bangkai lalat yang naas itu menuju sarang mereka.

Dalam perjalanan sekawanan semut menuju ke sarangnya, seekor semut kecil bertanya kepada temannya yang lebih besar. “Ada apa dengan lalat ini Paman? Mengapa ia harus kita gigiti hingga mati seperti yang telah Paman lakukan bersama teman-teman tadi?”. Kemudian semut yang besar menjawab pertanyaannya, “Hhmm, itu adalah hal yang biasa. Sebenarnya kita seringkali menemukan lalat-lalat yang terkulai lemas atau mati seperti ini. Paman sadar, bahwa sebenarnya ia telah berusaha dan berjuang keras untuk dapat keluar dari kaca jendela disana. Namun ketika si lalat merasa tak lagi dapat menemukan jalan keluar, ia merasa frustasi, kelelahan, dan akhirnya jatuh terkulai lemas, sekarat, dan mati. Akhirnya, dia menjadi menu santapan makan malam kita”.

Semut kecil terlihat mengangguk-angguk untuk bisa memahami maksud sebenarnya dari jawaban si semut besar. Kemudian karena masih merasa penasaran, semut kecil kembali bertanya. “Aku masih belum mengerti maksudmu Paman, bukannya Paman tadi mengatakan bahwa lalat tersebut sudah berusaha dan berjuang keras?!? Tapi kenapa tidak berhasil?!”.

Semut besar yang sedang berjalan bersama kawanannya sambil memanggul lalat malang itu akhirnya menghentikan langkahnya secara spontan dan menjawab, “Lalat itu tidak mengenal menyerah dan telah mencoba untuk membebaskan diri berulang kali. Hanya saja, ia melakukannya selalu dengan cara yang sama”. Lalu, dengan mimiknya yang lebih serius, si semua besar itu kembali mengatakan sesuatu kepada semut kecil sambil mendekatkan wajahnya tepat di hadapan si semut kecil, “Ingat wahai anak muda, jika kamu melakukan sesuatu dengan cara yang sama tapi kamu ingin mendapatkan hasil yang berbeda, maka nasibmu akan sama seperti lalat ini”.

Si sulung dan si bungsu


Alkisah, seorang Ayah memberikan pesan yang sarat akan makna kepada 2 orang anaknya sebelum dirinya menghembuskan nafas terakhirnya. Dimana didikan Ayah yang disampaikan melalui sebuah pesan tersebut ditujukan agar kedua anaknya dapat menjadikan pesan tersebut menjadi ilmu yang mungkin takkan mereka temukan dimanapun.

“Pertama, jangan menagih hutang kepada siapapun. Dan yang kedua, jangan pernah izinkan tubuhmu terkena sinar matahari secara langsung!”, kata sang Ayah kepada kedua anaknya.

Sang anakpun merasa bingung tentang apa yang telah diucapkan oleh Ayahnya kepada mereka. Namun yang ketika itu pesan tersebut tidak dapat ditelaah oleh mereka. Hingga akhirnya sang Ayah pun menghembuskan nafas terakhir, pergi untuk selamanya kembali ke pangkuanNya.

6 tahun berlalu sejak sang Ayah tiada, sang ibu menyempatkan diri untuk melihat kondisi si bungsu yang ternyata bisnisnya yang sangat memprihatinkan. Melihat hal tersebut, lalu sang Ibu bertanya kepada si bungsu, “Wahai anak bungsu ku, kenapa bisnismu jadi seperti ini?!? Apa yang sebenarnya terjadi hingga kau demikian?”. Lalu si Bungsu menjawab, “Aku hanya mengikuti pesan Ayah bu. Aku dilarang untuk menagih piutang kepada siapapun, karena banyak piutang yang tidak di bayar dan lama-lama modal aku habis. Kemudian Ayah juga melarangku untuk terkena sinar matahari secara langsung, sementara aku hanya memiliki sepeda motor. Itulah sebabnya saya selalu pergi dan pulang menggunakan taksi”.

Melihat alasan si Bungsu, sang Ibu merasa sangat prihatin dan hanya bisa menggeleng-gelengkan kepala.

Beberapa hari kemudian, sang Ibu juga menyempatkan diri untuk melihat dan mengunjungi keadaan si Sulung. Namun keadaannya justru terbalik dari keadaan si Bungsu. Lalu sang Ibu bertanya kepada si Sulung, “Wahai anak Sulung ku, mengapa hidupmu bisa seperti ini? Kamu terlihat bagaikan seseorang yang sangat beruntung?”.

Si Sulung pun menjawab pertanyaan ibunya, “Ini karena aku mengikuti pesan Ayah bu. Aku dilarang menagih hutang kepada siapapun. Maka dari itu, aku tidak pernah memberikan hutang kepada klien bisnisku atau siapapun itu sehingga modalku yang minim bisa tetap utuh dan terus berkembang. Kemudian aku juga mengikuti pesan Ayah yang kedua, aku dilarang terkena sinar matahari secara langsung. Karena aku hanya memiliki sebuah motor tua, aku selalu berangkat sebelum matahari terbit dan pulang setelah matahari terbenam. Dengan demikian sehingga perlahan banyak orang yang mengetahui bahwa toko yang aku miliki buka dari pagi dan tutup hingga malam hari”.

Si Sulung dan si Bungsu menerima pesan yang sama, namun diantara mereka berdua memiliki sudut pandang yang berbeda. Dan mereka melakukan cara yang berbeda hingga mendapatkan hasil yang juga berbeda.

7 keajaiban dunia

Pada pertengahan semester dua, seorang guru kelas 3 Sekolah Dasar memberikan tugas kepada murid-muridnya. Tugas tersebut adalah tentang Tujuh Keajaiban Dunia. Beberapa waktu sebelum lonceng kelas selesai siang itu, semua murid diminta untuk segera mengumpulkan tugas mereka masing-masing. Tetapi, seorang gadis kecil cantik yang paling pendiam di kelas itu mengumpulkan tugasnya paling akhir serta penuh dengan keraguan. Beberapa saat kemudian, lonceng sekolah berbunyi yang menandakan sudah waktunya pulang.

Malam harinya, sang guru memeriksa tugas semua murid tentang Tujuh Keajaiban Dunia. Bercampur rasa letih, namun dengan perlahan sang guru berusaha untuk menyelesaikan pekerjaannya. Satu demi satu diperiksa. Sebagian besar murid-muridnya menuliskan beberapa keajaiban. Yaitu :

1. Menara Eiffel 2. Taj Mahal 3. Menara Pisa 4. Piramida Mesir 5. Tembok Besar di Cina 6. Kuil Angkor 7. Kuil Parthenon

Lembar demi lebar sepertinya terlihat mirip, bahkan bisa dikatakan sebagian besar jawaban mereka sama. Kalaupun terdapat perbedaa, itu hanyalah perbedaan pada urutan dari daftar jawabannya saja.

Hingga ketika sang guru memeriksa lembar terakhir, dia hanya bisa terdiam. Dirinya seakan mematung, jiwanya seakan keluar menembus batas ruang, hanyut bersama rasa letih yang mendera serta keluguan goresan tangan seorang muridnya yang di kenal dengan sebutan si gadis pendiam.

Pada lembar terakhir milik gadis kecil tersebut berisikan,

Tujuh Keajaiban Dunia :

1. Bisa melihat 2. Bisa mendengar 3. Bisa menyentuh 4. Bisa tertawa 5. Bisa di sayang 6. Bisa merasakan 7. Bisa mencintai

Redup dalam diam, sang guru mencoba menghela nafas panjang setelah meresapi jawaban dari gadis kecil tersebut. Setelah duduk terdiam beberapa saat, lalu sang guru beranjak dari kursinya dan menutup semua lembaran tugas yang telah diperiksanya.

Kemudian, sang guru menundukkan kepalanya seraya berdoa dalam hati. Mengucap syukur untuk anak kecil pendiam di kelasnya karena telah memberikan cerita inspiratif melalui sebuah pelajaran yang sangat hebat tentang Keajaiban Dunia.

“Tidak perlu mencari sampai ke ujung dunia untuk menemukan keajaiban. Karena sesungguhnya, bahwa ada Keajaiban Dunia yang sering terlupakan dan sebenarnya kita miliki”.

Doa sang juara

Suatu ketika seorang anak sedang mengikuti lomba mobil balap mainan. Suasana sungguh meriah siang itu, karena saat itu adalah babak final. Pada perlombaan itu hanya tinggal tersisa empat orang, dan mereka masing-masing memamerkan mobil mainan yang dimilikinya. Semua mainan mobil balap itu adalah buatan sendiri, sebab memang begitulah peraturannya.

Ada seorang anak bernama Andi, mobilnya tidak terlalu begitu istimewa, namun ia termasuk ke dalam empat anak yang masuki final. Di banding semua lawannya, mobil Andi adalah yang paling tidak sempurna. Beberapa anak menyaksikan kekuatan mobil itu, untuk berpacu melawan mobil

Yah, memang mobil si Andi memang tidak begitu menarik. Dengan kayu yang sederhana, dan sedikit lampu yang berkedip di atasnya tentu tidak sebanding dengan hiasan mewah yang dimiliki mobil mainan lainnya. Namun, Andi bangga dengan itu semua, karena mobil itu buatan tangannya sendiri.

Tibalah saat yang dinantikan, kejuaraan mobil balap mainan. Setiap anak bersiap-siap di garis start untuk mendorong mobil mereka sekencang-kencangnya. Di setiap jalur lintasan, telah siap empat mobil dengan empat pembalap kecilnya. Lintasan itu berbentuk lingkaran dengan jalur terpisah diantaranya. Namun sesaat kemudian, Andi meminta waktu sebentar sebelum lomba di mulai. Ia tampak berkomat kamit seperti sedang berdoa. Matanya terpejam, dengan tangan yang tertampuh memanjatkan doa. Lalu, semenit kemudian, ia berkata, “Ya, aku siap!”.

Tanda telah di mulai. Dengan hentakan yang kuat, mereka mulai mendorong mobilnya masing-masing dengan kuat-kuat. Semua mobil itu pun meluncur dengan cepat. Setiap orang bersorak soraya, bersemangat, menjagokan mobilnya masing-masing.

“Ayo, ayo, ayo! Cepat! Cepat! Maju maju maju! Ayo..!!!”, begitu teriak mereka.

Dan ternyata, Andi lah pemenangnya. Yah.., semuanya senang. Begitu juga dengan Andi.

Ia berucap, dan berkomat kamit lagi dalam hati, “Terima kasih Tuhan..”.

Saat pembagian piala tiba, Andi maju ke depan dengan bangga. Sebelum piala itu diserahkan, ketua panitia itu bertanya, “Hey jagoan, kamu tadi pasti berdoa kepada Tuhan, agar kamu bisa menang kan?!?”.

Andi terdiam, “Bukan Pak, bukan itu yang aku panjatkan. Sepertinya tidak adil untuk meminta kepada Tuhan untuk menolong saya agar mengalahkan orang lain. Tetapi tadi, saya hanya memohon kepada Tuhan supaya saya tidak menangis jika saya kalah”.

Semua hadirin terdiam mendengar hal itu. Setelah beberapa saat, terdengar gemuruh tepuk tangan yang memenuhi ruangan.

Begitulah cerita inspiratif tentang doa sang juara. Mungkin telah banyak waktu yang kita lakukan untuk berdoa pada Tuhan, untuk mengabulkan permintaan kita, menjadikan kita nomor satu, menjadi yang terbaik, menjadi pemenang dalam setiap ujian. Padahal, yang kita butuhkan adalah bimbinganNya, tuntunanNya, dan panduanNya. Kita sering terlalu lemah untuk percaya bahwa kita kuat, kita sering lupa, dan kita sering merasa cengeng dengan kehidupan ini. Tidak adakah semangat perjuangan yang mau kita lalui?! Saya yakin, Tuhan memberikan kita ujian yang berat, bukan untuk membuat kita lemah, cengeng, dan mudah menyerah. Karena itu semua adalah ujian Tuhan kepada setiap hambanya yang sholeh. Dan yang perlu di sadari & di ingat kembali, bahwa Tuhan menyayangi & mencintai setiap hambaNya.

Refleksi diri


Suatu hari, seorang anak kecil dan ayahnya berjalan di sebuah gunung. Karena jalannya licin, tiba-tiba anak itu tergelincir dan menjerit, “Ahh..”. Tetapi betapa kagetnya dia, ketika terdengar suara di balik gunung. Dengan penuh rasa ingin tahu, ia kembali berteriak, “Hay, siapa kau?!”. Ia mendengar lagi suara dari balik gunung. Mendengar hal itu, ia merasa dipermainkan. Dan dengan marah, ia kembali teriak, “Kau pengecut!”. Tapi sekali lagi, dari balik gunung juga terdengar suara balasan.

Bingung dengan apa yang telah terjadi, kemudian si anak kecil bertanya pada ayahnya. “Ayah, sebenarnya apa yang terjadi? Siapa orang yang menirukan ucapanku tadi? Mengapa aku tidak melihatnya?”. Mendengar pertanyaan anak kecil tadi, sang ayah lalu berkata, “Anakku, ayo kita pulang”.

Kemudian, sang ayah berteriak sekuat tenaga pada gunung, “Aku mengagumimu..”. sekali lagu ayahnya berteriak, “Kau adalah sang juara..!”.

Anak itu masih saja terheran-heran dan belum juga bisa memahami. Kemudian ayahnya menjelaskan, “Anakku, orang-orang menyebutnya gema. Tetapi sesungguhnya, ada makna lain dalam kehidupan kita ini. Ia akan mengembalikannya pada kita apa saja yang sudah kita lakukan dan kita katakan, hidup kita ini hanya refleksi dari segala tindakan kita”.

Welcome to my life

Do you ever like breaking down'

Do you ever feel out of place'

Like somehow you just don't belong,

and no one understands you.

Do you ever wanna run away'

Do you lock yourself in your room'

With the radio on turned up so loud,

and no one hears you screaming.

No you don't know what its like

When nothing feels alright

You don't know what its like to be like me...

To be hurt, to feel lost, to be left out in the dark

To be kicked when you're down, to feel like you've been pushed around Bm

To be on the edge of breaking down, when no one's there to save you

No you don't know what its like

Welcome to my life

Do you wanna be somebody else'

Are you sick of being so left out'

Are you desperate to find something more,

before your life is over'

Are you stuck inside a world you hate'

Are you sick of everyone around'

With the big fake smiles and stupid lies,

While deep inside your bleeding

No you don't know what its like

When nothing feels alright

You don't know what its like to be like me...

To be hurt, to feel lost, to be left out in the dark

To be kicked when your down, to feel like you've been pushed around

To be on the edge of breaking down, when no ones there to save you

No you don't know what its like

Welcome to my life..

No one ever lies straight to your face

And no one ever stabs you in the back

You might think I'm happy

But I'm not gonna be okay

Everybody always gave you what you wanted

You never had to work it was always there

You don't know what it's like what it's like..

To be hurt, to feel lost, to be left out in the dark

To be kicked when you're down, to feel like you've been pushed around

To be on the edge of breaking down, when no ones there to save you

No you don't know what its like, what its like

To be hurt, to feel lost, to be left out in the dark

To be kicked when you're down, to feel like you've been pushed around

To be on the edge of breaking down, when no ones there to save you

No you don't know what its like

Welcome to my life

Welcome to my life

Jumat, 16 Oktober 2015

Bangga jadi suku betawi

Kawan saya di Tempo yang sangat Jawa, Harun Mahbub, pernah berkelakar bahwa suku Betawi adalah suku yang muda, sementara Jawa adalah suku yang tua. Pemahamannya itu didasarkan pada pengetahuan bahwa asal-usul orang Jawa setidaknya sudah ada sejak abad ke 13 sejak zaman Kerajaan Mataram Kuno.

Namun ternyata suku Betawi enggak muda-muda amat meskipun nama Betawi, yang didasarkan pada Kota Batavia, baru muncul belakangan, yakni pada abad ke-15. JJ Rizal dalam Kongko sambil Tuker Pikiran di Komunitas Bambu pada Minggu, 11 Oktober 2015 mengatakan penggalian oleh para arkeolog telah memperlihatkan bahwa sejak lima ribu tahun yang lalu sudah ada masyarakat yang bermukim di pinggir Kali Ciliwung, antara lain di Condet. Hal ini terbukti dengan ditemukannya peralatan rumah tangga seperti kapak perimbas. Bahkan sepanjang pengetahuan saya, nama salah satu kelurahan di Condet, yakni Batu Ampar, konon berasal dari batu yang dipakai dalam kegiatan memasak manusia prasejarah di Jakarta. Karena itu, masyarakat sungai ini bisa disebut sebagai cikal bakal alias nenek moyang orang Betawi. Sayangnya tak ada catatan sejarah yang bisa ditemukan dari masa ini. Gelap dan ahistoris.

Dengan demikian, pantaslah jika dibilang masyarakat Betawi merupakan masyarakat sungai. Hal ini terbukti dengan banyaknya nama tempat di Jakarta yang mengandung unsur air, misalnya Kalimalang, Rawasari, dan Setu Babakan. Masyarakat tepian sungai ini kemudian membentuk wilayah yang masuk dalam catatan Cina, yang disebut Kalapa. Orang-orang Cina juga membuat peta sungai yang menyebut adanya kota bandar. Dapat dipahami bahwa masyarakat sungai di kota bandar Kalapa merupakan bentuk lanjut dari masyarakat sungai. Karena ada pengaruh ekspansi Sunda, maka kota ini kemudian lebih dikenal sebagai Sunda Kalapa. Di dalam kota ini sudah ada penghuninya, tapi kemudian terus mengalami evolusi akibat bertambahnya para pendatang ke kota.

Rizal menyatakan salah satu bukti orang Betawi berasal dari masyarakat sungai adalah banyaknya mitos maupun folklor yang berhubungan dengan buaya. Bahkan, salah satu syarat dalam pernikahan cara Betawi adalah membawa roti buaya. Buaya adalah perlambang kesetiaan. Meski kawin berkali-kali selama hidupnya, buaya hanya kawin dengan satu pasangan pada satu waktu. Selama itu pula buaya setia dan tak akan berpaling dari pasangannya.

Penakhlukan kota Batavia oleh Fatahillah, yang kemudian mengubah nama kota ini menjadi Jayakarta yang berarti “kemenangan”, membuat masyarakat asli Jakarta terus berevolusi. Perang dengan Banten dan setelah penaklukan oleh Fatahillah, yakni ketika kota dikuasai Pangeran Jayakarta, malah memperlihatkan perkembangan yang terus mundur. Kota kemudian dihancurkan dan masuk berbagai etnis akibat politik yang dijalankan oleh JP Coen, Gubernur Hindia Belanda yang paling terkenal. Orang Betawi yang tadinya berciri masyarakat sungai berubah menjadi masyarakat benteng. Sifat inklusif dan suka bercampur (termasuk dalam urusan kawin) membuat terciptanya satu suku etnis tertentu yang ternyata, menurut Rizal, “Jawa bukan, Sunda bukan.”

Politik JP Coen membelah Batavia menjadi dua, yakni Intramuros (daerah pusat kota) dan Ommelanden (wilayah pinggiran kota). Di tiap perkampungan dibentuk sebuah otonomi sendiri dengan seorang ketua. Akibatnya, kita mengenal ada Kampung Melayu, Kampung Makassar, dan Kampung Cina. Pada tahun 1830 dilakukan sensus dan ditemukan 80 ribu jiwa yang tidak bisa dideteksi suku bangsanya. Dengan kebudayaannya yang bercorak Hindis, yang menjadi salah satu aspek kebudayaan Betawi sekarang, kelompok ini dinamakan sebagai Betawi—berasal dari nama Batavia dalam pengucapan pribumi.

Rizal mengatakan nama Betawi semakin dikenal luas sejak seorang ulama besar bernama Syekh Junaid Al-Batawi membawa nama Betawi dalam ranah Islam. Ia diakui sebagai syaikhul masyaikh para ulama mashab Syafi’ie. Syekh keturunan Bugis ini lahir di Pekojan dan wafat di Mekah pada 1840 dalam usia 100 tahun.

Sifat kebudayaan Betawi masa kini seharusnya mencerminkan asal-usulnya: progresif, berani, terbuka, cerdas, dan menghargai plurarisme. Maka tak aneh jika setiap orang yang datang ke Ibu Kota berusaha menjadi Betawi. Contohnya, Harry de Fretes, yang kemudian mempopulerkan Lenong Rumpi—meski nyata tak ada bau-bau lenong sama sekali di situ. Dengan demikian, asal-usul keturunan tak lagi penting. Siapakah yang berani mengatakan Rano Karno, SM Ardan, MH Thamrin dan bahkan Benyamin Suaeb—ikon Betawi tersohor—bukan orang Betawi? Rano Karno jelas orang Padang, SM Ardan berdarah Sunda, kakek MH Thamrin asli Inggris, dan bapaknya Benyamin berasal dari Purworejo. Maka, ukuran “asli” menjadi sulit untuk ditemukan akibat sifat orang Betawi yang senang bercampur.

Rizal menegaskan pada masa ini ukuran kebetawian bukan pada keturunan, tetapi pada sebesar apa orang tersebut memahami dan ikut berbuat bagi Betawi. Orang Betawi telah menempuh proses sejarah, membuka diri, dan tak menengok lagi asalnya. Masa lalu tak penting lagi, seperti banyak orang tua Betawi zaman dulu yang tak ingat tanggal lahir anaknya dan hanya ditandai dengan gejala alam. Dengan demikian, Betawi akan terus hadir, tak mati, dan tak terbatas pada konsep politik geografis saja. Orang Betawi ada di Depok, Bekasi, bahkan Bogor, membuat pembatasan Betawi Pinggir, Tengah, dan Ora kini tak lagi relevan. Yang terpenting sekarang, menurut Rizal, adalah bagaimana orang Betawi bertindak tidak merusak citra Betawi. Atau seperti kata MH Thamrin, “Mudah-mudahan pada sigra mendusin.”