Rabu, 09 Desember 2015

Cara menghidupkan kompor gas mati setelah ganti tabung

Bangun tidur pagi pagi enaknya ngopi...tapi liat istri cetak cetek didepan kompor gas yang tidak juga mau menyala setelah ganti tabung. Pada awalnya ane sendiri males buat beranjak karna hari libur cuaca habis hujan juga.

Karna gak tahan denger berisik abe bilang ja coba ganti karet pentil menggunakan yang lama...beberapa menit kemudian istri datang dari warung setelah minta karet pentil tabung gas dan mengantinya seperti saran saya. Tapi karna tidak jua berhasil ane pun turun tangan dan mencoba...ternyTa bener bener gagal.

Setelah mencoba hampir 2 jam tanpa hasil, ane pun bilang nanti ja dibenerinnya setelah pulang...akhirnya dispenser yg sudah lama gak dipakai hidup kembali. Dan makanan pun beli.

Pulang malam diingatkan buat pasang tabung pun meluncur dari mulut istri manisku. Dengan setengah putus asa akhirnya ane pun turun tangan kembali, dalam hati liat google juga pasti berhasil. Saran digoogle di buka tutup pengunci regulator tabung, ketok ketok kepala tabung....gagal total. Setelah ane cari sumber masalah ternyata regulator mengunci.

Cara yg pasti dijamin berhasil 1000% ternyata sepele...lepas selang regulator, diregulator ada pelor kecil pengunci...itu yg menyebabkan gas tidak mau berjalan. Tinggal tekan pelor besi kecil di regulator  menggunakan  jarum atau tusuk gigi. Pasang kembali selang....langsung hidup lagi....sepele tapi... its work man!!!

Semoga membantu...jika ada masalah yang sama, cara ini paling jitu.

Wasallam

Jumat, 23 Oktober 2015

Kisah lalat dan semut

Pada tong sampah yang berada tepat di depan sebuah rumah terlihat sekelompok lalat yang beterbangan sambil menikmati santapannya. Beberapa ekor diantara lalat-lalat tersebut terkadang ada yang secara tidak sengaja masuk ke dalam rumah dan terkurung di dalamnya karena mencoba mencari makanan lainnya yang ada di dalam rumah.

“Saya merasa sangat bosan dengan sampah-sampah tersebut, sekarang saatnya menikmati makanan segar dan lebih lezat!”, kata seekor lalat yang berhasil masuk ke dalam rumah. Ternyata, pintu rumah di tutup oleh tuan rumah, maka lalat tersebut terjebak di dalam ruangan tempat ia mendapatkan santapan yang katanya lezat itu. Kemudian si lalat terbang kesana kemari berjuang agar bisa keluar dari rumah tersebut. Dan akhirnya, ia hanya bisa terbang menuju kaca jendela rumah tersebut yang tidak terdapat rongga untuk membuat si lalat kembali bebas ke luar. Sejenak seekor lalat yang terjebak itu terdiam sambil melihat teman-temannya yang melambaikan tangan dan mengajaknya untuk kembali menikmati santapan bersama yang berada di tong sampah depan rumah itu.

Dengan berjuang sekuat tenaga, si lalat hanya bisa terbang di sekitar kaca. Terbang dan menabrak kaca, terus berusaha ke sisi lainnya dengan seperti itu. Terus dan terus secara berulang-ulang ia lakukan agar dirinya bisa bebas kembali bersama teman-temannya di luar sana. Tanpa disadari, senja pun datang dan semakin malam. Lalat yang terjebak itu hanya melihat kegelapan di luar sana dan tidak lagi melihat keberadaan teman-temannya dari balik kaca. Perlahan, ia mulai lemas dan akhirnya mati.

Beberapa saat kemudian, tidak jauh dari keberadaan si lalat yang sudah mati itu nampak segerombolan semut merah yang berjalan beriringan keluar dari sarangnya untuk mencari makan. Dan ketika mereka menjumpai lalat yang sudah tidak berdaya itu, dengan kekompakan mereka langsung mengerumungi dan menggigiti tubuh lalat itu hingga mereka dapat memastikan bahwa si lalat benar-benar mati. Setelah si lalat mati, segerombolan semut itupun mengangkut bangkai lalat yang naas itu menuju sarang mereka.

Dalam perjalanan sekawanan semut menuju ke sarangnya, seekor semut kecil bertanya kepada temannya yang lebih besar. “Ada apa dengan lalat ini Paman? Mengapa ia harus kita gigiti hingga mati seperti yang telah Paman lakukan bersama teman-teman tadi?”. Kemudian semut yang besar menjawab pertanyaannya, “Hhmm, itu adalah hal yang biasa. Sebenarnya kita seringkali menemukan lalat-lalat yang terkulai lemas atau mati seperti ini. Paman sadar, bahwa sebenarnya ia telah berusaha dan berjuang keras untuk dapat keluar dari kaca jendela disana. Namun ketika si lalat merasa tak lagi dapat menemukan jalan keluar, ia merasa frustasi, kelelahan, dan akhirnya jatuh terkulai lemas, sekarat, dan mati. Akhirnya, dia menjadi menu santapan makan malam kita”.

Semut kecil terlihat mengangguk-angguk untuk bisa memahami maksud sebenarnya dari jawaban si semut besar. Kemudian karena masih merasa penasaran, semut kecil kembali bertanya. “Aku masih belum mengerti maksudmu Paman, bukannya Paman tadi mengatakan bahwa lalat tersebut sudah berusaha dan berjuang keras?!? Tapi kenapa tidak berhasil?!”.

Semut besar yang sedang berjalan bersama kawanannya sambil memanggul lalat malang itu akhirnya menghentikan langkahnya secara spontan dan menjawab, “Lalat itu tidak mengenal menyerah dan telah mencoba untuk membebaskan diri berulang kali. Hanya saja, ia melakukannya selalu dengan cara yang sama”. Lalu, dengan mimiknya yang lebih serius, si semua besar itu kembali mengatakan sesuatu kepada semut kecil sambil mendekatkan wajahnya tepat di hadapan si semut kecil, “Ingat wahai anak muda, jika kamu melakukan sesuatu dengan cara yang sama tapi kamu ingin mendapatkan hasil yang berbeda, maka nasibmu akan sama seperti lalat ini”.

Si sulung dan si bungsu


Alkisah, seorang Ayah memberikan pesan yang sarat akan makna kepada 2 orang anaknya sebelum dirinya menghembuskan nafas terakhirnya. Dimana didikan Ayah yang disampaikan melalui sebuah pesan tersebut ditujukan agar kedua anaknya dapat menjadikan pesan tersebut menjadi ilmu yang mungkin takkan mereka temukan dimanapun.

“Pertama, jangan menagih hutang kepada siapapun. Dan yang kedua, jangan pernah izinkan tubuhmu terkena sinar matahari secara langsung!”, kata sang Ayah kepada kedua anaknya.

Sang anakpun merasa bingung tentang apa yang telah diucapkan oleh Ayahnya kepada mereka. Namun yang ketika itu pesan tersebut tidak dapat ditelaah oleh mereka. Hingga akhirnya sang Ayah pun menghembuskan nafas terakhir, pergi untuk selamanya kembali ke pangkuanNya.

6 tahun berlalu sejak sang Ayah tiada, sang ibu menyempatkan diri untuk melihat kondisi si bungsu yang ternyata bisnisnya yang sangat memprihatinkan. Melihat hal tersebut, lalu sang Ibu bertanya kepada si bungsu, “Wahai anak bungsu ku, kenapa bisnismu jadi seperti ini?!? Apa yang sebenarnya terjadi hingga kau demikian?”. Lalu si Bungsu menjawab, “Aku hanya mengikuti pesan Ayah bu. Aku dilarang untuk menagih piutang kepada siapapun, karena banyak piutang yang tidak di bayar dan lama-lama modal aku habis. Kemudian Ayah juga melarangku untuk terkena sinar matahari secara langsung, sementara aku hanya memiliki sepeda motor. Itulah sebabnya saya selalu pergi dan pulang menggunakan taksi”.

Melihat alasan si Bungsu, sang Ibu merasa sangat prihatin dan hanya bisa menggeleng-gelengkan kepala.

Beberapa hari kemudian, sang Ibu juga menyempatkan diri untuk melihat dan mengunjungi keadaan si Sulung. Namun keadaannya justru terbalik dari keadaan si Bungsu. Lalu sang Ibu bertanya kepada si Sulung, “Wahai anak Sulung ku, mengapa hidupmu bisa seperti ini? Kamu terlihat bagaikan seseorang yang sangat beruntung?”.

Si Sulung pun menjawab pertanyaan ibunya, “Ini karena aku mengikuti pesan Ayah bu. Aku dilarang menagih hutang kepada siapapun. Maka dari itu, aku tidak pernah memberikan hutang kepada klien bisnisku atau siapapun itu sehingga modalku yang minim bisa tetap utuh dan terus berkembang. Kemudian aku juga mengikuti pesan Ayah yang kedua, aku dilarang terkena sinar matahari secara langsung. Karena aku hanya memiliki sebuah motor tua, aku selalu berangkat sebelum matahari terbit dan pulang setelah matahari terbenam. Dengan demikian sehingga perlahan banyak orang yang mengetahui bahwa toko yang aku miliki buka dari pagi dan tutup hingga malam hari”.

Si Sulung dan si Bungsu menerima pesan yang sama, namun diantara mereka berdua memiliki sudut pandang yang berbeda. Dan mereka melakukan cara yang berbeda hingga mendapatkan hasil yang juga berbeda.

7 keajaiban dunia

Pada pertengahan semester dua, seorang guru kelas 3 Sekolah Dasar memberikan tugas kepada murid-muridnya. Tugas tersebut adalah tentang Tujuh Keajaiban Dunia. Beberapa waktu sebelum lonceng kelas selesai siang itu, semua murid diminta untuk segera mengumpulkan tugas mereka masing-masing. Tetapi, seorang gadis kecil cantik yang paling pendiam di kelas itu mengumpulkan tugasnya paling akhir serta penuh dengan keraguan. Beberapa saat kemudian, lonceng sekolah berbunyi yang menandakan sudah waktunya pulang.

Malam harinya, sang guru memeriksa tugas semua murid tentang Tujuh Keajaiban Dunia. Bercampur rasa letih, namun dengan perlahan sang guru berusaha untuk menyelesaikan pekerjaannya. Satu demi satu diperiksa. Sebagian besar murid-muridnya menuliskan beberapa keajaiban. Yaitu :

1. Menara Eiffel 2. Taj Mahal 3. Menara Pisa 4. Piramida Mesir 5. Tembok Besar di Cina 6. Kuil Angkor 7. Kuil Parthenon

Lembar demi lebar sepertinya terlihat mirip, bahkan bisa dikatakan sebagian besar jawaban mereka sama. Kalaupun terdapat perbedaa, itu hanyalah perbedaan pada urutan dari daftar jawabannya saja.

Hingga ketika sang guru memeriksa lembar terakhir, dia hanya bisa terdiam. Dirinya seakan mematung, jiwanya seakan keluar menembus batas ruang, hanyut bersama rasa letih yang mendera serta keluguan goresan tangan seorang muridnya yang di kenal dengan sebutan si gadis pendiam.

Pada lembar terakhir milik gadis kecil tersebut berisikan,

Tujuh Keajaiban Dunia :

1. Bisa melihat 2. Bisa mendengar 3. Bisa menyentuh 4. Bisa tertawa 5. Bisa di sayang 6. Bisa merasakan 7. Bisa mencintai

Redup dalam diam, sang guru mencoba menghela nafas panjang setelah meresapi jawaban dari gadis kecil tersebut. Setelah duduk terdiam beberapa saat, lalu sang guru beranjak dari kursinya dan menutup semua lembaran tugas yang telah diperiksanya.

Kemudian, sang guru menundukkan kepalanya seraya berdoa dalam hati. Mengucap syukur untuk anak kecil pendiam di kelasnya karena telah memberikan cerita inspiratif melalui sebuah pelajaran yang sangat hebat tentang Keajaiban Dunia.

“Tidak perlu mencari sampai ke ujung dunia untuk menemukan keajaiban. Karena sesungguhnya, bahwa ada Keajaiban Dunia yang sering terlupakan dan sebenarnya kita miliki”.

Doa sang juara

Suatu ketika seorang anak sedang mengikuti lomba mobil balap mainan. Suasana sungguh meriah siang itu, karena saat itu adalah babak final. Pada perlombaan itu hanya tinggal tersisa empat orang, dan mereka masing-masing memamerkan mobil mainan yang dimilikinya. Semua mainan mobil balap itu adalah buatan sendiri, sebab memang begitulah peraturannya.

Ada seorang anak bernama Andi, mobilnya tidak terlalu begitu istimewa, namun ia termasuk ke dalam empat anak yang masuki final. Di banding semua lawannya, mobil Andi adalah yang paling tidak sempurna. Beberapa anak menyaksikan kekuatan mobil itu, untuk berpacu melawan mobil

Yah, memang mobil si Andi memang tidak begitu menarik. Dengan kayu yang sederhana, dan sedikit lampu yang berkedip di atasnya tentu tidak sebanding dengan hiasan mewah yang dimiliki mobil mainan lainnya. Namun, Andi bangga dengan itu semua, karena mobil itu buatan tangannya sendiri.

Tibalah saat yang dinantikan, kejuaraan mobil balap mainan. Setiap anak bersiap-siap di garis start untuk mendorong mobil mereka sekencang-kencangnya. Di setiap jalur lintasan, telah siap empat mobil dengan empat pembalap kecilnya. Lintasan itu berbentuk lingkaran dengan jalur terpisah diantaranya. Namun sesaat kemudian, Andi meminta waktu sebentar sebelum lomba di mulai. Ia tampak berkomat kamit seperti sedang berdoa. Matanya terpejam, dengan tangan yang tertampuh memanjatkan doa. Lalu, semenit kemudian, ia berkata, “Ya, aku siap!”.

Tanda telah di mulai. Dengan hentakan yang kuat, mereka mulai mendorong mobilnya masing-masing dengan kuat-kuat. Semua mobil itu pun meluncur dengan cepat. Setiap orang bersorak soraya, bersemangat, menjagokan mobilnya masing-masing.

“Ayo, ayo, ayo! Cepat! Cepat! Maju maju maju! Ayo..!!!”, begitu teriak mereka.

Dan ternyata, Andi lah pemenangnya. Yah.., semuanya senang. Begitu juga dengan Andi.

Ia berucap, dan berkomat kamit lagi dalam hati, “Terima kasih Tuhan..”.

Saat pembagian piala tiba, Andi maju ke depan dengan bangga. Sebelum piala itu diserahkan, ketua panitia itu bertanya, “Hey jagoan, kamu tadi pasti berdoa kepada Tuhan, agar kamu bisa menang kan?!?”.

Andi terdiam, “Bukan Pak, bukan itu yang aku panjatkan. Sepertinya tidak adil untuk meminta kepada Tuhan untuk menolong saya agar mengalahkan orang lain. Tetapi tadi, saya hanya memohon kepada Tuhan supaya saya tidak menangis jika saya kalah”.

Semua hadirin terdiam mendengar hal itu. Setelah beberapa saat, terdengar gemuruh tepuk tangan yang memenuhi ruangan.

Begitulah cerita inspiratif tentang doa sang juara. Mungkin telah banyak waktu yang kita lakukan untuk berdoa pada Tuhan, untuk mengabulkan permintaan kita, menjadikan kita nomor satu, menjadi yang terbaik, menjadi pemenang dalam setiap ujian. Padahal, yang kita butuhkan adalah bimbinganNya, tuntunanNya, dan panduanNya. Kita sering terlalu lemah untuk percaya bahwa kita kuat, kita sering lupa, dan kita sering merasa cengeng dengan kehidupan ini. Tidak adakah semangat perjuangan yang mau kita lalui?! Saya yakin, Tuhan memberikan kita ujian yang berat, bukan untuk membuat kita lemah, cengeng, dan mudah menyerah. Karena itu semua adalah ujian Tuhan kepada setiap hambanya yang sholeh. Dan yang perlu di sadari & di ingat kembali, bahwa Tuhan menyayangi & mencintai setiap hambaNya.

Refleksi diri


Suatu hari, seorang anak kecil dan ayahnya berjalan di sebuah gunung. Karena jalannya licin, tiba-tiba anak itu tergelincir dan menjerit, “Ahh..”. Tetapi betapa kagetnya dia, ketika terdengar suara di balik gunung. Dengan penuh rasa ingin tahu, ia kembali berteriak, “Hay, siapa kau?!”. Ia mendengar lagi suara dari balik gunung. Mendengar hal itu, ia merasa dipermainkan. Dan dengan marah, ia kembali teriak, “Kau pengecut!”. Tapi sekali lagi, dari balik gunung juga terdengar suara balasan.

Bingung dengan apa yang telah terjadi, kemudian si anak kecil bertanya pada ayahnya. “Ayah, sebenarnya apa yang terjadi? Siapa orang yang menirukan ucapanku tadi? Mengapa aku tidak melihatnya?”. Mendengar pertanyaan anak kecil tadi, sang ayah lalu berkata, “Anakku, ayo kita pulang”.

Kemudian, sang ayah berteriak sekuat tenaga pada gunung, “Aku mengagumimu..”. sekali lagu ayahnya berteriak, “Kau adalah sang juara..!”.

Anak itu masih saja terheran-heran dan belum juga bisa memahami. Kemudian ayahnya menjelaskan, “Anakku, orang-orang menyebutnya gema. Tetapi sesungguhnya, ada makna lain dalam kehidupan kita ini. Ia akan mengembalikannya pada kita apa saja yang sudah kita lakukan dan kita katakan, hidup kita ini hanya refleksi dari segala tindakan kita”.

Welcome to my life

Do you ever like breaking down'

Do you ever feel out of place'

Like somehow you just don't belong,

and no one understands you.

Do you ever wanna run away'

Do you lock yourself in your room'

With the radio on turned up so loud,

and no one hears you screaming.

No you don't know what its like

When nothing feels alright

You don't know what its like to be like me...

To be hurt, to feel lost, to be left out in the dark

To be kicked when you're down, to feel like you've been pushed around Bm

To be on the edge of breaking down, when no one's there to save you

No you don't know what its like

Welcome to my life

Do you wanna be somebody else'

Are you sick of being so left out'

Are you desperate to find something more,

before your life is over'

Are you stuck inside a world you hate'

Are you sick of everyone around'

With the big fake smiles and stupid lies,

While deep inside your bleeding

No you don't know what its like

When nothing feels alright

You don't know what its like to be like me...

To be hurt, to feel lost, to be left out in the dark

To be kicked when your down, to feel like you've been pushed around

To be on the edge of breaking down, when no ones there to save you

No you don't know what its like

Welcome to my life..

No one ever lies straight to your face

And no one ever stabs you in the back

You might think I'm happy

But I'm not gonna be okay

Everybody always gave you what you wanted

You never had to work it was always there

You don't know what it's like what it's like..

To be hurt, to feel lost, to be left out in the dark

To be kicked when you're down, to feel like you've been pushed around

To be on the edge of breaking down, when no ones there to save you

No you don't know what its like, what its like

To be hurt, to feel lost, to be left out in the dark

To be kicked when you're down, to feel like you've been pushed around

To be on the edge of breaking down, when no ones there to save you

No you don't know what its like

Welcome to my life

Welcome to my life

Jumat, 16 Oktober 2015

Bangga jadi suku betawi

Kawan saya di Tempo yang sangat Jawa, Harun Mahbub, pernah berkelakar bahwa suku Betawi adalah suku yang muda, sementara Jawa adalah suku yang tua. Pemahamannya itu didasarkan pada pengetahuan bahwa asal-usul orang Jawa setidaknya sudah ada sejak abad ke 13 sejak zaman Kerajaan Mataram Kuno.

Namun ternyata suku Betawi enggak muda-muda amat meskipun nama Betawi, yang didasarkan pada Kota Batavia, baru muncul belakangan, yakni pada abad ke-15. JJ Rizal dalam Kongko sambil Tuker Pikiran di Komunitas Bambu pada Minggu, 11 Oktober 2015 mengatakan penggalian oleh para arkeolog telah memperlihatkan bahwa sejak lima ribu tahun yang lalu sudah ada masyarakat yang bermukim di pinggir Kali Ciliwung, antara lain di Condet. Hal ini terbukti dengan ditemukannya peralatan rumah tangga seperti kapak perimbas. Bahkan sepanjang pengetahuan saya, nama salah satu kelurahan di Condet, yakni Batu Ampar, konon berasal dari batu yang dipakai dalam kegiatan memasak manusia prasejarah di Jakarta. Karena itu, masyarakat sungai ini bisa disebut sebagai cikal bakal alias nenek moyang orang Betawi. Sayangnya tak ada catatan sejarah yang bisa ditemukan dari masa ini. Gelap dan ahistoris.

Dengan demikian, pantaslah jika dibilang masyarakat Betawi merupakan masyarakat sungai. Hal ini terbukti dengan banyaknya nama tempat di Jakarta yang mengandung unsur air, misalnya Kalimalang, Rawasari, dan Setu Babakan. Masyarakat tepian sungai ini kemudian membentuk wilayah yang masuk dalam catatan Cina, yang disebut Kalapa. Orang-orang Cina juga membuat peta sungai yang menyebut adanya kota bandar. Dapat dipahami bahwa masyarakat sungai di kota bandar Kalapa merupakan bentuk lanjut dari masyarakat sungai. Karena ada pengaruh ekspansi Sunda, maka kota ini kemudian lebih dikenal sebagai Sunda Kalapa. Di dalam kota ini sudah ada penghuninya, tapi kemudian terus mengalami evolusi akibat bertambahnya para pendatang ke kota.

Rizal menyatakan salah satu bukti orang Betawi berasal dari masyarakat sungai adalah banyaknya mitos maupun folklor yang berhubungan dengan buaya. Bahkan, salah satu syarat dalam pernikahan cara Betawi adalah membawa roti buaya. Buaya adalah perlambang kesetiaan. Meski kawin berkali-kali selama hidupnya, buaya hanya kawin dengan satu pasangan pada satu waktu. Selama itu pula buaya setia dan tak akan berpaling dari pasangannya.

Penakhlukan kota Batavia oleh Fatahillah, yang kemudian mengubah nama kota ini menjadi Jayakarta yang berarti “kemenangan”, membuat masyarakat asli Jakarta terus berevolusi. Perang dengan Banten dan setelah penaklukan oleh Fatahillah, yakni ketika kota dikuasai Pangeran Jayakarta, malah memperlihatkan perkembangan yang terus mundur. Kota kemudian dihancurkan dan masuk berbagai etnis akibat politik yang dijalankan oleh JP Coen, Gubernur Hindia Belanda yang paling terkenal. Orang Betawi yang tadinya berciri masyarakat sungai berubah menjadi masyarakat benteng. Sifat inklusif dan suka bercampur (termasuk dalam urusan kawin) membuat terciptanya satu suku etnis tertentu yang ternyata, menurut Rizal, “Jawa bukan, Sunda bukan.”

Politik JP Coen membelah Batavia menjadi dua, yakni Intramuros (daerah pusat kota) dan Ommelanden (wilayah pinggiran kota). Di tiap perkampungan dibentuk sebuah otonomi sendiri dengan seorang ketua. Akibatnya, kita mengenal ada Kampung Melayu, Kampung Makassar, dan Kampung Cina. Pada tahun 1830 dilakukan sensus dan ditemukan 80 ribu jiwa yang tidak bisa dideteksi suku bangsanya. Dengan kebudayaannya yang bercorak Hindis, yang menjadi salah satu aspek kebudayaan Betawi sekarang, kelompok ini dinamakan sebagai Betawi—berasal dari nama Batavia dalam pengucapan pribumi.

Rizal mengatakan nama Betawi semakin dikenal luas sejak seorang ulama besar bernama Syekh Junaid Al-Batawi membawa nama Betawi dalam ranah Islam. Ia diakui sebagai syaikhul masyaikh para ulama mashab Syafi’ie. Syekh keturunan Bugis ini lahir di Pekojan dan wafat di Mekah pada 1840 dalam usia 100 tahun.

Sifat kebudayaan Betawi masa kini seharusnya mencerminkan asal-usulnya: progresif, berani, terbuka, cerdas, dan menghargai plurarisme. Maka tak aneh jika setiap orang yang datang ke Ibu Kota berusaha menjadi Betawi. Contohnya, Harry de Fretes, yang kemudian mempopulerkan Lenong Rumpi—meski nyata tak ada bau-bau lenong sama sekali di situ. Dengan demikian, asal-usul keturunan tak lagi penting. Siapakah yang berani mengatakan Rano Karno, SM Ardan, MH Thamrin dan bahkan Benyamin Suaeb—ikon Betawi tersohor—bukan orang Betawi? Rano Karno jelas orang Padang, SM Ardan berdarah Sunda, kakek MH Thamrin asli Inggris, dan bapaknya Benyamin berasal dari Purworejo. Maka, ukuran “asli” menjadi sulit untuk ditemukan akibat sifat orang Betawi yang senang bercampur.

Rizal menegaskan pada masa ini ukuran kebetawian bukan pada keturunan, tetapi pada sebesar apa orang tersebut memahami dan ikut berbuat bagi Betawi. Orang Betawi telah menempuh proses sejarah, membuka diri, dan tak menengok lagi asalnya. Masa lalu tak penting lagi, seperti banyak orang tua Betawi zaman dulu yang tak ingat tanggal lahir anaknya dan hanya ditandai dengan gejala alam. Dengan demikian, Betawi akan terus hadir, tak mati, dan tak terbatas pada konsep politik geografis saja. Orang Betawi ada di Depok, Bekasi, bahkan Bogor, membuat pembatasan Betawi Pinggir, Tengah, dan Ora kini tak lagi relevan. Yang terpenting sekarang, menurut Rizal, adalah bagaimana orang Betawi bertindak tidak merusak citra Betawi. Atau seperti kata MH Thamrin, “Mudah-mudahan pada sigra mendusin.”

Minggu, 27 September 2015

Kisah soekarno bertanya surga

Mungkin ini adalah pertemuan sakral yang dialami oleh Prof. DR. H. Kadirun Yahya, Msc – seorang angkatan 1945, ahli sufi, ahli fisika dan pernah menjabat sebagai rektor Universitas Panca Budi, Medan - dengan Presiden RI pertama Ir. Soekarno.

Ia bersama rombongan saat itu diterima di beranda Istana Merdeka (sekitar bulan Juli 1965) bersama dengan Prof. Ir. Brojonegoro (alm), Prof. dr. Syarif Thayib, Bapak Suprayogi, Admiral John Lie, Pak Sucipto Besar, Kapolri, Duta Besar Belanda.

“Wah, pagi-pagi begini saya sudah dikepung oleh 3 Profesor-Profesor” kelakar Ir. Soekarno membuka dialog ketika menemui rombongan Prof. Kadirun Yahya beserta rombongan. Kemudian Presiden Soekarno mempersilakan rombongan tamunya untuk duduk.

“Profesor Kadirun Yahya silakan duduk dekat saya”, pinta presiden Soekarno kepada Prof. Kadirun Yahya, terkesan khusus.

“Professor, ik horde van jou al sinds 4 jaar, maar nu pas onmoet ik jou, ik wou je eigenlijk iets vragen (saya dengar tentang engkau sudah sejak 4 tahun, tapi baru sekarang aku ketemu engkau, sebenarnya ada sesuatu yang akan aku tanyakan padamu),” kata presiden Soekarno dengan bahasa Belanda. “Ya, tentang apa itu Bapak Presiden…?”

“Tentang sesuatu hal yang sudah kira-kira 10 tahun, saya cari-cari jawabannya, tapi belum ketemu jawaban yang memuaskan. Saya sudah bertanya pada semua ulama dan para intelektual yang saya anggap tahu. Tetapi semua jawabannya tetap tidak memuaskan saya.” “Lantas soalnya apa bapak Presiden?”

"Saya bertanya terlebih dahulu tentang yang lain, sebelum saya majukan pertanyaan yang sebenarnya” jawab Presiden Soekarno. “Baik Presiden” kata Prof. Kadirun Yahya

“Manakah yang lebih tinggi, Presiden atau Jenderal atau Profesor dibanding dengan sorga?” tanya Presiden. “Sorga” jawab Prof.Kadirun Yahya. “Accoord (setuju)”, balas Presiden terlihat lega.

Menyusul Presiden bertanya untuk soal berikutnya. “Lantas manakah yang lebih banyak dan lebih lama pengorbanannya antara pangkat-pangkat dunia yang tadi dibanding dengan pangkat sorga?” tanyanya.

“Untuk Presiden, Jenderal, Profesor harus berpuluh-puluh tahun berkorban dan ber-abdi pada Negara, nusa dan bangsa atau pada ilmu pengetahuan. Sedangkan untuk mendapatkan sorga harus berkorban untuk Allah segala-galanya. Berpuluh-puluh tahun terus menerus, bahkan menurut agama Hindu atau Budha harus beribu-ribu kali hidup dan berabdi, baru barangkali dapat masuk Nirwana," jawab Prof. Kadirun. “Accoord”, kata Bung Karno (panggilan akrab Presiden).

“Nu heb ik je te pakken Professor (sekarang baru dapat kutangkap engkau Profesor)” lanjut Bung Karno. Tampak mukanya cerah berseri dengan senyumnya yang khas. Dan kelihatannya Bung Karno belum ingin cepat-cepat bertanya untuk yang pokok masalah. “Saya cerita sedikit dulu” kata Bung Karno. “Silakan Bapak Presiden”.

“Saya telah melihat teman-teman saya meninggal dunia lebih dahulu dari saya, dan hampir semuanya matinya jelek karena banyak dosa rupanya. Sayapun banyak dosa dan saya takut mati jelek. Maka saya selidiki Al-Quran dan Al-Hadits bagaimana caranya supaya dengan mudah hapus dosa saya dan dapat ampunan dan bisa mati tersenyum."

"Lantas saya ketemu dengan satu Hadits yang bagi saya berharga. Bunyinya kira-kira sebagai berikut : Rasulullah berkata; Seorang wanita penuh dosa berjalan di padang pasir, bertemu dengan seekor anjing dan kehausan. Wanita tadi mengambil gayung yang berisikan air dan memberi minum anjing yang kehausan itu. Rasul lewat dan berkata: Hai para sahabatku. Lihatlah, dengan memberi minum anjing itu, hapus dosa wanita itu dunia dan akhirat. Ia ahli sorga”.

“Nah Profesor, tadi engkau katakan bahwa untuk mendapatkan sorga harus berkorban segala-galanya, berpuluh-puluh tahun untuk Allah baru dapat masuk sorga. Itupun barangkali. Sementara sekarang seorang wanita yang berdosa dengan sedikit saja jasa, itupun pada seekor anjing pula, dihapuskan Tuhan dosanya dan ia ahli sorga. How do you explain it Professor?” Tanya Bung Karno lanjut. Profesor Kadirun Yahya terlihat tidak langsung menjawab. Ia hening sejenak. Lantas berdiri dan meminta kertas.

"Presiden, U zei, det U in 10 jaren’t antwoord niet hebt kunnen vinden, laten we zien (Presiden, tadi bapak katakan dalam 10 tahun tak ketemu jawabannya, coba kita lihat), mudah-mudahan dengan bantuan Allah dalam 2 menit saja saya coba memberikan jawabannya dan memuaskan”, katanya.

Keduanya adalah sama-sama eksakta, Bung Karno adalah seorang insinyur dan Profesor Kadirun Yahya adalah ahli kimia/fisika.

Di atas kertas Prof. Kadirun mulai menuliskan penjelasannya. 10/10 = 1 ; “Ya” kata Presiden. 10/100 = 1/10 ; “Ya” kata Presiden. 10/1000` = 1/100 ; “Ya” kata Presiden. 10/10.000 = 1/1000 ; “Ya” kata Presiden.

10 / ∞ (tak terhingga) = 0 ; “Ya” kata Presiden. 1000.000 … / ∞ = 0 ; “Ya” kata Presiden. (Berapa saja + Apa saja) /∞ = 0; “Ya” kata Presiden. Dosa / ∞ = 0 ; “Ya” kata Presiden.

Nah…” lanjut Prof, 1 x ∞ = ∞ ; “Ya” kata Presiden ½ x ∞ = ∞ ; “Ya” kata Presiden. 1 zarah x ∞ = ∞ ; “Ya” kata Presiden. “… ini artinya, sang wanita, walaupun hanya 1 zarah jasanya, bahkan terhadap seekor anjing sekalipun, mengkaitkan, menggandengkan gerakannya dengan yang Maha Akbar."

"Mengikutsertakan yang Maha Besar dalam gerakan-gerakannya, maka hasil dari gerakannya itu menghasilkan ibadah yang begitu besar, yang langsung dihadapkan pada dosa-dosanya, yang pada saat itu juga hancur berkeping-keping. Ditorpedo oleh PAHALA yang Maha Besar itu. 1 zarah x ∞ = ∞ Dan, Dosa / ∞ = 0. Ziedaar hetantwoord, Presiden (Itulah dia jawabannya Presiden)” jawab Profesor.

Bung Karno diam sejenak . “Geweldig (hebat)” katanya kemudian. Dan Bung Karno terlihat semakin penasaran.

Masih ada lagi pertanyaan yang ia ajukan. “Bagaimana agar dapat hubungan dengan Tuhan?” katanya.

Profesor Kadirun Yahya pun lanjut menjawabnya. “Dengan mendapatkan frekuensi-Nya. Tanpa mendapatkan frekuensi-Nya tak mungkin ada kontak dengan Tuhan."

"Lihat saja, walaupun 1 mm jaraknya dari sebuah zender radio, kita letakkan radio dengan frekuensi yang tidak sama, maka radio kita itu tidak akan mengeluarkan suara dari zender tersebut. Begitu juga dengan Tuhan, walaupun Tuhan berada lebih dekat dari kedua urat leher kita, tak mungkin ada kontak jika frekuensi-Nya tidak kita dapati”, jelasnya.

“Bagaimana agar dapat frekuensi-Nya, sementara kita adalah manusia kecil yang serba kekurangan ?” tanya Presiden kemudian.

“Melalui isi dada Rasulullah” jawab Prof.

“Dalam Hadits Qudsi berbunyi yang artinya : Bahwasanya Al-Quran ini satu ujungnya di tangan Allah dan satu lagi di tangan kamu, maka peganglah kuat-kuat akan dia” (Abi Syuraihil Khuza’ayya.r.a), lanjutnya.

Prof menyambung, “Begitu juga dalam QS.Al-Hijr :29 – Maka setelah Aku sempurnakan dia dan Aku tiupkan di dalamnya sebagian rohKu, rebahkanlah dirimu bersujud kepadaNya”.

"Nur Illahi yang terbit dari Allah sendiri adalah tali yang nyata antara Allah dengan Rasulullah. Ujung Nur Illahi itu ada dalam dada Rasulullah. Ujungnya itulah yang kita hubungi, maka jelas kita akan dapat frekuensi dari Allah SWT", kata Prof.

Prof melanjutkan, "Lihat saja sunnatullah, hanya cahaya matahari saja yang satu-satunya sampai pada matahari. Tak ada yang sampai pada matahari melainkan cahayanya sendiri. Juga gas-gas yang saringan-saringannya tak ada yang sampai matahari, walaupun ‘edelgassen’ seperti : Xenon, Crypton, Argon, Helium, Hydrogen dan lain-lain. Semua vacuum! Yang sampai pada matahari hanya cahayanya karena ia terbit darinya dan tak bercerai siang dan malamnya dengannya. Kalaulah matahari umurnya 1 (satu) juta tahun, maka cahayanyapun akan berumur sejuta tahun pula. Kalau matahari hilang maka cahayanyapun akan hilang. Matahari hanya dapat dilihat melalui cahayanya, tanpa cahaya, mataharipun tak dapat dilihat”.

"Namun cahaya matahari, bukanlah matahari – cahaya matahari adalah getaran transversal dan longitudinal dari matahari sendiri (Huygens)", jelas Prof.

Prof menyimpulkan, "Dan Rasulullah adalah satu-satunya manusia akhir zaman yang mendapat Nur Illahi dalam dadanya. Mutlak jika hendak mendapatkan frekuensi Allah, ujung dari nur itu yang berada dalam dada Rasulullah harus dihubungi."

“Bagaimana cara menghubungkannya, sementara Rasulullah sudah wafat sekian lama?” tanya Presiden. “

Prof menjawab, "Memperbanyak sholawat atas Nabi tentu akan mendapatkan frekuensi Beliau, yang otomatis mendapat frekuensi Allah SWT.

–Tidak kukabulkan doa seseorang, tanpa shalawat atas Rasul-Ku. Doanya tergantung di awang-awang – (HR. Abu Daud dan An-Nasay).

Jika diterjemahkan secara akademis mungkin kurang lebih : “Tidak engkau mendapat frekuensi-Ku tanpa lebih dahulu mendapat frekuensi Rasul-Ku”.

Sontak Presiden berdiri. “You are wonderful” teriaknya. Sejurus kemudian, dengan merangkul kedua tangan profesor, Presidenpun bermohon : “Profesor, doakan saya supaya dapat mati dengan tersenyum dibelakang hari nanti."

Rabu, 09 September 2015

Kisah marbot masjid at'tawaun, puncak Bogor

Kisah Marbot Masjid Atta’awun Cisarua Puncak Bogor

Cerita ini nyata yang mengisahkan dua sahabat yg terpisah cukup lama; Ahmad dan Zaenal. Ahmad ini pintar sekali. Cerdas. Tapi dikisahkan kurang beruntung secara ekonomi. Sedangkan Zaenal adalah sahabat yg biasa2 saja. Namun keadaan orang tuanya mendukung karir dan masa depan Zaenal.

Setelah terpisah cukup lama, keduanya bertemu. Bertemu di tempat yg istimewa; di koridor wudhu, koridor toilet sebuah masjid megah dengan arsitektur yg cantik, yg memiliki view pegunungan dengan kebun teh yg terhampar hijau di bawahnya. Mesjid tersebut adalah mesjid At-Ta’awun yang berada di puncak Bogor.

Adalah Zaenal, sudah menjelma menjadi seorang manager kelas menengah. Necis. Parlente. Tapi tetap menjaga kesalehannya.

Ia punya kebiasaan. Setiap keluar kota, ia sempatkan singgah di masjid di kota yg ia singgahi. Untuk memperbaharui wudhu, dan sujud syukur. Syukur-syukur masih dapat waktu yg diperbolehkan shalat sunnah, maka ia shalat sunnah juga sebagai tambahan.

Seperti biasa, ia tiba di Puncak Pas, Bogor. Ia mencari masjid. Ia pinggirkan mobilnya, dan bergegas masuk ke masjid yg ia temukan.

Di sanalah ia menemukan Ahmad. Cukup terperangah Zaenal ini. Ia tahu sahabatnya ini meski berasal dari keluarga tak punya, tapi pintarnya minta ampun.

Zaenal tidak menyangka bila berpuluh tahun kemudian ia menemukan Ahmad sebagai merbot masjid..!

“Maaf,” katanya menegor sang merbot. “Kamu Ahmad kan? Ahmad kawan SMP saya dulu?”.

Yang ditegor tidak kalah mengenali. Lalu keduanya berpelukan, Ahmad berucap “Keren sekali Kamu ya Mas… Manteb…”. Zaenal terlihat masih dlm keadaan memakai dasi. Lengan yg digulungnya untuk persiapan wudhu, menyebabkan jam bermerknya terlihat oleh Ahmad. “Ah, biasa saja…”.

Zaenal menaruh iba. Ahmad dilihatnya sedang memegang kain pel. Khas merbot sekali. Celana digulung, dan peci didongakkan sehingga jidatnya yg lebar terlihat jelas.

“Mad… Ini kartu nama saya…”.

Ahmad melihat. “Manager Area…”. Wuah, bener-bener keren.”

“Mad, nanti habis saya shalat, kita ngobrol ya. Maaf, kalau kamu berminat, di kantor saya ada pekerjaan yang lebih baik dari sekedar merbot di masjid ini. Maaf…”.

Ahmad tersenyum. Ia mengangguk. “Terima kasih ya… Nanti kita ngobrol. Selesaikan saja dulu shalatnya. Saya pun menyelesaikan pekerjaan bersih2 dulu… Silahkan ya. Yang nyaman”.

Sambil wudhu, Zaenal tidak habis pikir. Mengapa Ahmad yg pintar, kemudian harus terlempar darik kehidupan normal. Ya, meskipun tidak ada yang salah dengan pekerjaan sebagai merbot, tapi merbot… ah, pikirannya tidak mampu membenarkan. Zaenal menyesalkan kondisi negerinya ini yg tidak berpihak kepada orang-orang yang sebenarnya memiliki talenta dan kecerdasan, namun miskin.

Air wudhu membasahi wajahnya…

Sekali lagi Zaenal melewati Ahmad yang sedang bersih-bersih. Andai saja Ahmad mengerjakan pekerjaannya ini di perkantoran, maka sebutannya bukan merbot. Melainkan “office boy”.

Tanpa sadar, ada yang shalat di belakang Zaenal. Sama-sama shalat sunnah sepertinya. Setelah menyelesaikan shalatnya Zaenal sempat melirik. “Barangkali ini kawannya Ahmad…”, gumamnya. Zaenal menyelesaikan doanya secara singkat. Ia ingin segera bicara dengan Ahmad.

“Pak,” tiba2 anak muda yg shalat di belakangnya menegur.

“Iya Mas..?”

“Pak, Bapak kenal emangnya sama bapak Insinyur Haji Ahmad…?”

“Insinyur Haji Ahmad…?”

“Ya, insinyur Haji Ahmad…”

“Insinyur Haji Ahmad yang mana…?”

“Itu, yang barusan ngobrol sama Bapak…”

“Oh… Ahmad… Iya. Kenal. Kawan saya dulu di SMP. Emangnya udah haji dia?”

“Dari dulu udah haji Pak. Dari sebelum beliau bangun ini masjid…”.

Kalimat itu begitu datar. Tapi cukup menampar hatinya Zaenal… Dari dulu sudah haji… Dari sebelum beliau bangun masjid ini…

Anak muda ini kemudian menambahkan, “Beliau orang hebat Pak. Tawadhu’. Saya lah yg merbot asli masjid ini. Saya karyawannya beliau. Beliau yang bangun masjid ini Pak. Di atas tanah wakafnya sendiri. Beliau biayai sendiri pembangunan masjid indah ini, sebagai masjid transit mereka yg mau shalat. Bapak lihat hotel indah di sebelah sana? … Itu semua milik beliau… Tapi beliau lebih suka menghabiskan waktunya di sini. Bahkan salah satu kesukaannya, aneh. Yaitu senangnya menggantikan posisi saya. Karena suara saya bagus, kadang saya disuruh mengaji saja dan azan…”.

Zaenal tertegun, entah apa yang ada di hati dan di pikiran Zaenal saat itu

***** Ada pelajaran dari kisah pertemuan Zaenal dan Ahmad. Jika Ahmad itu adalah kita, mungkin begitu bertemu kawan lama yang sedang melihat kita membersihkan toilet, segera kita beritahu posisi kita yang sebenarnya.

Dan jika kemudian kawan lama kita ini menyangka kita merbot masjid, maka kita akan menyangkal dan kemudian menjelaskan secara detail begini dan begitu. Sehingga tahulah kawan kita bahwa kita inilah pewakaf dan yang membangun masjid ini.

Tapi kita bukan Haji Ahmad. Dan Haji Ahmad bukannya kita. Semoga ia selamat dari rusaknya nilai amal, sebab ia tetap tenang dan tidak risih dengan penilaian manusia. Haji Ahmad merasa tidak perlu menjelaskan apa-apa. Dan kemudian Allah yg memberitahu siapa dia sebenarnya…

“Al mukhlishu, man yaktumu hasanaatihi kamaa yaktumu sayyi-aatihi” Orang yang ikhlas itu adalah orang yang menyembunyikan kebaikan-kebaikannya, seperti ia menyembunyikan keburukan-keburukan dirinya.

Lirik lagu " i remember" Mocca

"i remember"

I remember...The way you glanced at me, yes I remember

I remember...When we caught a shooting star, yes I remember

#chorus

I remember.. All the things that we shared Dm

and the promise we made, just you and I

I remember.. All the laughter we shared Dm
all the wishes we made, upon the roof at dawn

Do you remember..? When we were dancing

in the rain in that december

And I remember..When my father thought you were a burglar

#back to chorus

#bridge :

papparappa

papparappa

papparapa

papparappa

papparappa

papparapa

#back to chorus

I remember.. The way you read your books, yes I remember

The way you tied your shoes, yes I remember

The cake you loved the most, yes I remember

The way you drank you coffee, I remember

The way you glanced at me, yes I remember

When we caught a shooting star, yes I remember

When we were dancing in the rain in that december

And the way you smile at me, yes I remember

7 pemuda ashabul kahfi

kisah masa lalu, yaitu kisah Ashabul Kahfi, kisah pertemuan nabi Musa as dan nabi Khaidir as serta kisah Dzulqarnain. Kisah Ashabul Kahfi mendapat perhatian lebih dengan digunakan sebagai nama surat dimana terdapat tiga kisah tersebut. Hal ini tentu bukan kebetulan semata, tapi karena kisah Ashabul Kahfi, seperti juga kisah dalam al-Quran lainnya, bukan merupakan kisah semata, tapi juga terdapat banyak pelajaran (ibrah) didalamnya.

Ashabul Kahfi adalah nama sekelompok orang beriman yang hidup pada masa Raja Diqyanus di Romawi, beberapa ratus tahun sebelum diutusnya nabi Isa as. Mereka hidup ditengah masyarakat penyembah berhala dengan seorang raja yang dzalim. Ketika sang raja mengetahui ada sekelompok orang yang tidak menyembah berhala, maka sang raja marah lalu memanggil mereka dan memerintahkan mereka untuk mengikuti kepercayaan sang raja. Tapi Ashabul Kahfi menolak dan lari, dikejarlah mereka untuk dibunuh. Ketika mereka lari dari kejaran pasukan raja, sampailah mereka di mulut sebuah gua yang kemudian dipakai tempat persembunyian.

Dengan izin Allah mereka kemudian ditidurkan selama 309 tahun di dalam gua, dan dibangkitkan kembali ketika masyarakat dan raja mereka sudah berganti menjadi masyarakat dan raja yang beriman kepada Allah SWT (Ibnu Katsir; Tafsir al-Quran al-'Adzim; jilid:3 ; hal.67-71).

Berikut adalah kisah Ashabul Kahfi (Penghuni Gua) yang ditafsir secara jelas jalan ceritanya..... Penulis kitab Fadha'ilul Khamsah Minas Shihahis Sittah (jilid II, halaman 291-300), mengetengahkan suatu riwayat yang dikutip dari kitab Qishashul Anbiya. Riwayat tersebut berkaitan dengan tafsir ayat 10 Surah Al-Kahfi:

"(Ingatlah) tatkala pemuda-pemuda itu mencari tempat berlindung ke dalam gua lalu mereka berdo'a: "Wahai Tuhan kami berikanlah rahmat kepada kami dari sisi-Mu dan sempurnakanlah bagi kami petunjuk yang lurus dalam urusan kami (ini)" (QS al-Kahfi:10)

Dengan panjang lebar kitab Qishashul Anbiya mulai dari halaman 566 meriwayatkan sebagai berikut:

Di kala Umar Ibnul Khattab memangku jabatan sebagai Amirul Mukminin, pernah datang kepadanya beberapa orang pendeta Yahudi. Mereka berkata kepada Khalifah: "Hai Khalifah Umar, anda adalah pemegang kekuasaan sesudah Muhammad dan sahabatnya, Abu Bakar. Kami hendak menanyakan beberapa masalah penting kepada anda. Jika anda dapat memberi jawaban kepada kami, barulah kami mau mengerti bahwa Islam merupakan agama yang benar dan Muhammad benar-benar seorang Nabi. Sebaliknya, jika anda tidak dapat memberi jawaban, berarti bahwa agama Islam itu bathil dan Muhammad bukan seorang Nabi."

"Silahkan bertanya tentang apa saja yang kalian inginkan," sahut Khalifah Umar. "Jelaskan kepada kami tentang induk kunci (gembok) mengancing langit, apakah itu?" Tanya pendeta-pendeta itu, memulai pertanyaan-pertanyaannya. "Terangkan kepada kami tentang adanya sebuah kuburan yang berjalan bersama penghuninya, apakah itu? Tunjukkan kepada kami tentang suatu makhluk yang dapat memberi peringatan kepada bangsanya, tetapi ia bukan manusia dan bukan jin! Terangkan kepada kami tentang lima jenis makhluk yang dapat berjalan di permukaan bumi, tetapi makhluk-makhluk itu tidak dilahirkan dari kandungan ibu atau atau induknya! Beritahukan kepada kami apa yang dikatakan oleh burung puyuh (gemak) di saat ia sedang berkicau! Apakah yang dikatakan oleh ayam jantan di kala ia sedang berkokok! Apakah yang dikatakan oleh kuda di saat ia sedang meringkik? Apakah yang dikatakan oleh katak di waktu ia sedang bersuara? Apakah yang dikatakan oleh keledai di saat ia sedang meringkik? Apakah yang dikatakan oleh burung pipit pada waktu ia sedang berkicau?"

Khalifah Umar menundukkan kepala untuk berfikir sejenak, kemudian berkata: "Bagi Umar, jika ia menjawab 'tidak tahu' atas pertanyaan-pertanyaan yang memang tidak diketahui jawabannya, itu bukan suatu hal yang memalukan!'' Mendengar jawaban Khalifah Umar seperti itu, pendeta-pendeta Yahudi yang bertanya berdiri melonjak-lonjak kegirangan, sambil berkata: "Sekarang kami bersaksi bahwa Muhammad memang bukan seorang Nabi, dan agama Islam itu adalah bathil!"

Salman Al-Farisi yang saat itu hadir, segera bangkit dan berkata kepada pendeta-pendeta Yahudi itu: "Kalian tunggu sebentar!"

Ia cepat-cepat pergi ke rumah Ali bin Abi Thalib. Setelah bertemu, Salman berkata: "Ya Abal Hasan, selamatkanlah agama Islam!"

Imam Ali r.a. bingung, lalu bertanya: "Mengapa?" Salman kemudian menceritakan apa yang sedang dihadapi oleh Khalifah Umar Ibnul Khattab. Imam Ali segera saja berangkat menuju ke rumah Khalifah Umar, berjalan lenggang memakai burdah (selembar kain penutup punggung atau leher) peninggalan Rasul Allah s.a.w. Ketika Umar melihat Ali bin Abi Thalib datang, ia bangun dari tempat duduk lalu buru-buru memeluknya, sambil berkata: "Ya Abal Hasan, tiap ada kesulitan besar, engkau selalu kupanggil!" Setelah berhadap-hadapan dengan para pendeta yang sedang menunggu-nunggu jawaban itu, Ali bin Abi Thalib herkata: "Silakan kalian bertanya tentang apa saja yang kalian inginkan. Rasul Allah s.a.w. sudah mengajarku seribu macam ilmu, dan tiap jenis dari ilmu-ilmu itu mempunyai seribu macam cabang ilmu!"

Pendeta-pendeta Yahudi itu lalu mengulangi pertanyaan-pertanyaan mereka. Sebelum menjawab, Ali bin Abi Thalib berkata: "Aku ingin mengajukan suatu syarat kepada kalian, yaitu jika ternyata aku nanti sudah menjawab pertanyaan-pertanyaan kalian sesuai dengan yang ada di dalam Taurat, kalian supaya bersedia memeluk agama kami dan beriman!"

"Ya baik!" jawab mereka. "Sekarang tanyakanlah satu demi satu," kata Ali bin Abi Thalib. Mereka mulai bertanya: "Apakah induk kunci (gembok) yang mengancing pintu-pintu langit?" "Induk kunci itu," jawab Ali bin Abi Thalib, "ialah syirik kepada Allah. Sebab semua hamba Allah, baik pria maupun wanita, jika ia bersyirik kepada Allah, amalnya tidak akan dapat naik sampai ke hadhirat Allah!" Para pendeta Yahudi bertanya lagi: "Anak kunci apakah yang dapat membuka pintu-pintu langit?" Ali bin Abi Thalib menjawab: "Anak kunci itu ialah kesaksian (syahadat) bahwa tiada tuhan selain Allah dan Muhammad adalah Rasul Allah!"

Para pendeta Yahudi itu saling pandang di antara mereka, sambil berkata: "Orang itu benar juga!" Mereka bertanya lebih lanjut: "Terangkanlah kepada kami tentang adanya sebuah kuburan yang dapat berjalan bersama penghuninya!" "Kuburan itu ialah ikan hiu (hut) yang menelan Nabi Yunus putera Matta," jawab Ali bin Abi Thalib. "Nabi Yunus as. dibawa keliling ketujuh samudera!"

Pendeta-pendeta itu meneruskan pertanyaannya lagi: "Jelaskan kepada kami tentang makhluk yang dapat memberi peringatan kepada bangsanya, tetapi makhluk itu bukan manusia dan bukan jin!"

Ali bin Abi Thalib menjawab: "Makhluk itu ialah semut Nabi Sulaiman putera Nabi Dawud alaihimas salam. Semut itu berkata kepada kaumnya: "Hai para semut, masuklah ke dalam tempat kediaman kalian, agar tidak diinjak-injak oleh Sulaiman dan pasukan-nya dalam keadaan mereka tidak sadar!".

Para pendeta Yahudi itu meneruskan pertanyaannya: "Beritahukan kepada kami tentang lima jenis makhluk yang berjalan di atas permukaan bumi, tetapi tidak satu pun di antara makhluk-makhluk itu yang dilahirkan dari kandungan ibunya atau induknya!"

Ali bin Abi Thalib menjawab: "Lima makhluk itu ialah, pertama, Adam. Kedua, Hawa. Ketiga, Unta Nabi Shaleh. Keempat, Domba Nabi Ibrahim. Kelima, Tongkat Nabi Musa (yang menjelma menjadi seekor ular)." Dua di antara tiga orang pendeta Yahudi itu setelah mendengar jawaban-jawaban serta penjelasan yang diberikan oleh Imam Ali r.a. lalu mengatakan: "Kami bersaksi bahwa tiada tuhan selain Allah dan Muhammad adalah Rasul Allah!" Tetapi seorang pendeta lainnya, bangun berdiri sambil berkata kepada Ali bin Abi Thalib: "Hai Ali, hati teman-temanku sudah dihinggapi oleh sesuatu yang sama seperti iman dan keyakinan mengenai benarnya agama Islam. Sekarang masih ada satu hal lagi yang ingin kutanyakan kepada anda."

"Tanyakanlah apa saja yang kau inginkan," sahut Imam Ali.

"Coba terangkan kepadaku tentang sejumlah orang yang pada zaman dahulu sudah mati selama 309 tahun, kemudian dihidupkan kembali oleh Allah. Bagaimana hikayat tentang mereka itu?" Tanya pendeta tadi.

Ali bin Ali Thalib menjawab: "Hai pendeta Yahudi, mereka itu ialah para penghuni gua. Hikayat tentang mereka itu sudah dikisahkan oleh Allah s.w.t. kepada Rasul-Nya. Jika engkau mau, akan kubacakan kisah mereka itu."

Pendeta Yahudi itu menyahut: "Aku sudah banyak mendengar tentang Qur'an kalian itu! Jika engkau memang benar-benar tahu, coba sebutkan nama-nama mereka, nama ayah-ayah mereka, nama kota mereka, nama raja mereka, nama anjing mereka, nama gunung serta gua mereka, dan semua kisah mereka dari awal sampai akhir!"

Ali bin Abi Thalib kemudian membetulkan duduknya, menekuk lutut ke depan perut, lalu ditopangnya dengan burdah yang diikatkan ke pinggang. Lalu ia berkata: "Hai saudara Yahudi, Muhammad Rasul Allah s.a.w. kekasihku telah menceritakan kepadaku, bahwa kisah itu terjadi di negeri Romawi, di sebuah kota bernama Aphesus, atau disebut juga dengan nama Tharsus. Tetapi nama kota itu pada zaman dahulu ialah Aphesus (Ephese). Baru setelah Islam datang, kota itu berubah nama menjadi Tharsus (Tarse, sekarang terletak di dalam wilayah Turki). Penduduk negeri itu dahulunya mempunyai seorang raja yang baik. Setelah raja itu meninggal dunia, berita kematiannya didengar oleh seorang raja Persia bernama Diqyanius. Ia seorang raja kafir yang amat congkak dan dzalim. Ia datang menyerbu negeri itu dengan kekuatan pasukannya, dan akhirnya berhasil menguasai kota Aphesus. Olehnya kota itu dijadikan ibukota kerajaan, lalu dibangunlah sebuah Istana."

Baru sampai di situ, pendeta Yahudi yang bertanya itu berdiri, terus bertanya: "Jika engkau benar-benar tahu, coba terangkan kepadaku bentuk Istana itu, bagaimana serambi dan ruangan-ruangannya!"

Ali bin Abi Thalib menerangkan: "Hai saudara Yahudi, raja itu membangun istana yang sangat megah, terbuat dari batu marmar. Panjangnya satu farsakh (= kl 8 km) dan lebarnya pun satu farsakh. Pilar-pilarnya yang berjumlah seribu buah, semuanya terbuat dari emas, dan lampu-lampu yang berjumlah seribu buah, juga semuanya terbuat dari emas. Lampu-lampu itu bergelantungan pada rantai-rantai yang terbuat dari perak. Tiap malam apinya dinyalakan dengan sejenis minyak yang harum baunya. Di sebelah timur serambi dibuat lubang-lubang cahaya sebanyak seratus buah, demikian pula di sebelah baratnya. Sehingga matahari sejak mulai terbit sampai terbenam selalu dapat menerangi serambi. Raja itu pun membuat sebuah singgasana dari emas. Panjangnya 80 hasta dan lebarnya 40 hasta. Di sebelah kanannya tersedia 80 buah kursi, semuanya terbuat dari emas. Di situlah para hulubalang kerajaan duduk. Di sebelah kirinya juga disediakan 80 buah kursi terbuat dari emas, untuk duduk para pepatih dan penguasa-penguasa tinggi lainnya. Raja duduk di atas singgasana dengan mengenakan mahkota di atas kepala."

Sampai di situ pendeta yang bersangkutan berdiri lagi sambil berkata: "Jika engkau benar-benar tahu, coba terangkan kepadaku dari apakah mahkota itu dibuat?"

"Hai saudara Yahudi," kata Imam Ali menerangkan, "mahkota raja itu terbuat dari kepingan-kepingan emas, berkaki 9 buah, dan tiap kakinya bertaburan mutiara yang memantulkan cahaya laksana bintang-bintang menerangi kegelapan malam. Raja itu juga mempunyai 50 orang pelayan, terdiri dari anak-anak para hulubalang. Semuanya memakai selempang dan baju sutera berwarna merah. Celana mereka juga terbuat dari sutera berwarna hijau. Semuanya dihias dengan gelang-gelang kaki yang sangat indah. Masing-masing diberi tongkat terbuat dari emas. Mereka harus berdiri di belakang raja.

Selain mereka, raja juga mengangkat 6 orang, terdiri dari anak-anak para cendekiawan, untuk dijadikan menteri-menteri atau pembantu-pembantunya. Raja tidak mengambil suatu keputusan apa pun tanpa berunding lebih dulu dengan mereka. Enam orang pembantu itu selalu berada di kanan kiri raja, tiga orang berdiri di sebelah kanan dan yang tiga orang lainnya berdiri di sebelah kiri." Pendeta yang bertanya itu berdiri lagi. Lalu berkata: "Hai Ali, jika yang kau katakan itu benar, coba sebutkan nama enam orang yang menjadi pembantu-pembantu raja itu!"

Menanggapi hal itu, Imam Ali r.a. menjawab: "Kekasihku Muhammad Rasul Allah s.a.w. menceritakan kepadaku, bahwa tiga orang yang berdiri di sebelah kanan raja, masing-masing bernama Tamlikha, Miksalmina, dan Mikhaslimina. Adapun tiga orang pembantu yang berdiri di sebelah kiri, masing-masing bernama Martelius, Casitius dan Sidemius. Raja selalu berunding dengan mereka mengenai segala urusan.

Tiap hari setelah raja duduk dalam serambi istana dikerumuni oleh semua hulubalang dan para punggawa, masuklah tiga orang pelayan menghadap raja. Seorang diantaranya membawa piala emas penuh berisi wewangian murni.

Seorang lagi membawa piala perak penuh berisi air sari bunga. Sedang yang seorangnya lagi membawa seekor burung. Orang yang membawa burung ini kemudian mengeluarkan suara isyarat, lalu burung itu terbang di atas piala yang berisi air sari bunga. Burung itu berkecimpung di dalamnya dan setelah itu ia mengibas-ngibaskan sayap serta bulunya, sampai sari-bunga itu habis dipercikkan ke semua tempat sekitarnya.

Kemudian si pembawa burung tadi mengeluarkan suara isyarat lagi. Burung itu terbang pula. Lalu hinggap di atas piala yang berisi wewangian murni. Sambil berkecimpung di dalamnya, burung itu mengibas-ngibaskan sayap dan bulunya, sampai wewangian murni yang ada dalam piala itu habis dipercikkan ke tempat sekitarnya. Pembawa burung itu memberi isyarat suara lagi. Burung itu lalu terbang dan hinggap di atas mahkota raja, sambil membentangkan kedua sayap yang harum semerbak di atas kepala raja.

Demikianlah raja itu berada di atas singgasana kekuasaan selama tiga puluh tahun. Selama itu ia tidak pernah diserang penyakit apa pun, tidak pernah merasa pusing kepala, sakit perut, demam, berliur, berludah atau pun beringus. Setelah sang raja merasa diri sedemikian kuat dan sehat, ia mulai congkak, durhaka dan dzalim. Ia mengaku-aku diri sebagai "tuhan" dan tidak mau lagi mengakui adanya Allah s.w.t.

Raja itu kemudian memanggil orang-orang terkemuka dari rakyatnya. Barang siapa yang taat dan patuh kepadanya, diberi pakaian dan berbagai macam hadiah lainnya. Tetapi barang siapa yang tidak mau taat atau tidak bersedia mengikuti kemauannya, ia akan segera dibunuh. Oleh sebab itu semua orang terpaksa mengiakan kemauannya. Dalam masa yang cukup lama, semua orang patuh kepada raja itu, sampai ia disembah dan dipuja. Mereka tidak lagi memuja dan menyembah Allah s.w.t.

Pada suatu hari perayaan ulang-tahunnya, raja sedang duduk di atas singgasana mengenakan mahkota di atas kepala, tiba-tiba masuklah seorang hulubalang memberi tahu, bahwa ada balatentara asing masuk menyerbu ke dalam wilayah kerajaannya, dengan maksud hendak melancarkan peperangan terhadap raja. Demikian sedih dan bingungnya raja itu, sampai tanpa disadari mahkota yang sedang dipakainya jatuh dari kepala.

Kemudian raja itu sendiri jatuh terpelanting dari atas singgasana. Salah seorang pembantu yang berdiri di sebelah kanan --seorang cerdas yang bernama Tamlikha-- memperhatikan keadaan sang raja dengan sepenuh fikiran. Ia berfikir, lalu berkata di dalam hati: "Kalau Diqyanius itu benar-benar tuhan sebagaimana menurut pengakuannya, tentu ia tidak akan sedih, tidak tidur, tidak buang air kecil atau pun air besar. Itu semua bukanlah sifat-sifat Tuhan."

Enam orang pembantu raja itu tiap hari selalu mengadakan pertemuan di tempat salah seorang dari mereka secara bergiliran. Pada satu hari tibalah giliran Tamlikha menerima kunjungan lima orang temannya. Mereka berkumpul di rumah Tamlikha untuk makan dan minum, tetapi Tamlikha sendiri tidak ikut makan dan minum. Teman-temannya bertanya: "Hai Tamlikha, mengapa engkau tidak mau makan dan tidak mau minum?"

"Teman-teman," sahut Tamlikha, "hatiku sedang dirisaukan oleh sesuatu yang membuatku tidak ingin makan dan tidak ingin minum, juga tidak ingin tidur."

Teman-temannya mengejar: "Apakah yang merisaukan hatimu, hai Tamlikha?"

"Sudah lama aku memikirkan soal langit," ujar Tamlikha menjelaskan."

Aku lalu bertanya pada diriku sendiri: 'siapakah yang mengangkatnya ke atas sebagai atap yang senantiasa aman dan terpelihara, tanpa gantungan dari atas dan tanpa tiang yang menopangnya dari bawah?

Siapakah yang menjalankan matahari dan bulan di langit itu?

Siapakah yang menghias langit itu dengan bintang-bintang bertaburan?' Kemudian kupikirkan juga bumi ini: 'Siapakah yang membentang dan menghamparkan-nya di cakrawala?

Siapakah yang menahannya dengan gunung-gunung raksasa agar tidak goyah, tidak goncang dan tidak miring?' Aku juga lama sekali memikirkan diriku sendiri: 'Siapakah yang mengeluarkan aku sebagai bayi dari perut ibuku? Siapakah yang memelihara hidupku dan memberi makan kepadaku? Semuanya itu pasti ada yang membuat, dan sudah tentu bukan Diqyanius'…"

Teman-teman Tamlikha lalu bertekuk lutut di hadapannya. Dua kaki Tamlikha diciumi sambil berkata: "Hai Tamlikha dalam hati kami sekarang terasa sesuatu seperti yang ada di dalam hatimu. Oleh karena itu, baiklah engkau tunjukkan jalan keluar bagi kita semua!"

"Saudara-saudara," jawab Tamlikha, "baik aku maupun kalian tidak menemukan akal selain harus lari meninggalkan raja yang dzalim itu, pergi kepada Raja pencipta langit dan bumi!"

"Kami setuju dengan pendapatmu," sahut teman-temannya.

Tamlikha lalu berdiri, terus beranjak pergi untuk menjual buah kurma, dan akhirnya berhasil mendapat uang sebanyak 3 dirham. Uang itu kemudian diselipkan dalam kantong baju. Lalu berangkat berkendaraan kuda bersama-sama dengan lima orang temannya.

Setelah berjalan 3 mil jauhnya dari kota, Tamlikha berkata kepada teman-temannya: "Saudara-saudara, kita sekarang sudah terlepas dari raja dunia dan dari kekuasaannya. Sekarang turunlah kalian dari kuda dan marilah kita berjalan kaki. Mudah-mudahan Allah akan memudahkan urusan kita serta memberikan jalan keluar."

Mereka turun dari kudanya masing-masing. Lalu berjalan kaki sejauh 7 farsakh, sampai kaki mereka bengkak berdarah karena tidak biasa berjalan kaki sejauh itu.

Tiba-tiba datanglah seorang penggembala menyambut mereka. Kepada penggembala itu mereka bertanya: "Hai penggembala, apakah engkau mempunyai air minum atau susu?"

"Aku mempunyai semua yang kalian inginkan," sahut penggembala itu. "Tetapi kulihat wajah kalian semuanya seperti kaum bangsawan. Aku menduga kalian itu pasti melarikan diri. Coba beritahukan kepadaku bagaimana cerita perjalanan kalian itu!"

"Ah…, susahnya orang ini," jawab mereka. "Kami sudah memeluk suatu agama, kami tidak boleh berdusta. Apakah kami akan selamat jika kami mengatakan yang sebenarnya?"

"Ya," jawab penggembala itu.

Tamlikha dan teman-temannya lalu menceritakan semua yang terjadi pada diri mereka. Mendengar cerita mereka, penggembala itu segera bertekuk lutut di depan mereka, dan sambil menciumi kaki mereka, ia berkata: "Dalam hatiku sekarang terasa sesuatu seperti yang ada dalam hati kalian. Kalian berhenti sajalah dahulu di sini. Aku hendak mengembalikan kambing-kambing itu kepada pemiliknya. Nanti aku akan segera kembali lagi kepada kalian."

Tamlikha bersama teman-temannya berhenti. Penggembala itu segera pergi untuk mengembalikan kambing-kambing gembalaannya. Tak lama kemudian ia datang lagi berjalan kaki, diikuti oleh seekor anjing miliknya."

Waktu cerita Imam Ali sampai di situ, pendeta Yahudi yang bertanya melonjak berdiri lagi sambil berkata: "Hai Ali, jika engkau benar-benar tahu, coba sebutkan apakah warna anjing itu dan siapakah namanya?"

"Hai saudara Yahudi," kata Ali bin Abi Thalib memberitahukan, "kekasihku Muhammad Rasul Allah s.a.w. menceritakan kepadaku, bahwa anjing itu berwarna kehitam-hitaman dan bernama Qithmir.

Ketika enam orang pelarian itu melihat seekor anjing, masing-masing saling berkata kepada temannya: kita khawatir kalau-kalau anjing itu nantinya akan membongkar rahasia kita! Mereka minta kepada penggembala supaya anjing itu dihalau saja dengan batu.

Anjing itu melihat kepada Tamlikha dan teman-temannya, lalu duduk di atas dua kaki belakang, menggeliat, dan mengucapkan kata-kata dengan lancar dan jelas sekali: "Hai orang-orang, mengapa kalian hendak mengusirku, padahal aku ini bersaksi tiada tuhan selain Allah, tak ada sekutu apa pun bagi-Nya. Biarlah aku menjaga kalian dari musuh, dan dengan berbuat demikian aku mendekatkan diriku kepada Allah s.w.t." Anjing itu akhirnya dibiarkan saja. Mereka lalu pergi. Penggembala tadi mengajak mereka naik ke sebuah bukit. Lalu bersama mereka mendekati sebuah gua."

Pendeta Yahudi yang menanyakan kisah itu, bangun lagi dari tempat duduknya sambil berkata: "Apakah nama gunung itu dan apakah nama gua itu?!"

Imam Ali menjelaskan: "Gunung itu bernama Naglus dan nama gua itu ialah Washid, atau di sebut juga dengan nama Kheram!"

Ali bin Abi Thalib meneruskan ceritanya: secara tiba-tiba di depan gua itu tumbuh pepohonan berbuah dan memancur mata-air deras sekali. Mereka makan buah-buahan dan minum air yang tersedia di tempat itu. Setelah tiba waktu malam, mereka masuk berlindung di dalam gua. Sedang anjing yang sejak tadi mengikuti mereka, berjaga-jaga ndeprok sambil menjulurkan dua kaki depan untuk menghalang-halangi pintu gua.

Kemudian Allah s.w.t. memerintahkan Malaikat maut supaya mencabut nyawa mereka. Kepada masing-masing orang dari mereka Allah s.w.t. mewakilkan dua Malaikat untuk membalik-balik tubuh mereka dari kanan ke kiri. Allah lalu memerintahkan matahari supaya pada saat terbit condong memancarkan sinarnya ke dalam gua dari arah kanan, dan pada saat hampir terbenam supaya sinarnya mulai meninggalkan mereka dari arah kiri.

Suatu ketika waktu raja Diqyanius baru saja selesai berpesta ia bertanya tentang enam orang pembantunya. Ia mendapat jawaban, bahwa mereka itu melarikan diri. Raja Diqyanius sangat gusar. Bersama 80.000 pasukan berkuda ia cepat-cepat berangkat menyelusuri jejak enam orang pembantu yang melarikan diri. Ia naik ke atas bukit, kemudian mendekati gua. Ia melihat enam orang pembantunya yang melarikan diri itu sedang tidur berbaring di dalam gua. Ia tidak ragu-ragu dan memastikan bahwa enam orang itu benar-benar sedang tidur.

Kepada para pengikutnya ia berkata: "Kalau aku hendak menghukum mereka, tidak akan kujatuhkan hukuman yang lebih berat dari perbuatan mereka yang telah menyiksa diri mereka sendiri di dalam gua. Panggillah tukang-tukang batu supaya mereka segera datang ke mari!"

Setelah tukang-tukang batu itu tiba, mereka diperintahkan menutup rapat pintu gua dengan batu-batu dan jish (bahan semacam semen). Selesai dikerjakan, raja berkata kepada para pengikutnya: "Katakanlah kepada mereka yang ada di dalam gua, kalau benar-benar mereka itu tidak berdusta supaya minta tolong kepada Tuhan mereka yang ada di langit, agar mereka dikeluarkan dari tempat itu." [Reply] jmw01 Dalam gua tertutup rapat itu, mereka tinggal selama 309 tahun.

Setelah masa yang amat panjang itu lampau, Allah s.w.t. mengembalikan lagi nyawa mereka. Pada saat matahari sudah mulai memancarkan sinar, mereka merasa seakan-akan baru bangun dari tidurnya masing-masing. Yang seorang berkata kepada yang lainnya: "Malam tadi kami lupa beribadah kepada Allah, mari kita pergi ke mata air!" Setelah mereka berada di luar gua, tiba-tiba mereka lihat mata air itu sudah mengering kembali dan pepohonan yang ada pun sudah menjadi kering semuanya. Allah s.w.t. membuat mereka mulai merasa lapar. Mereka saling bertanya: "Siapakah di antara kita ini yang sanggup dan bersedia berangkat ke kota membawa uang untuk bisa mendapatkan makanan? Tetapi yang akan pergi ke kota nanti supaya hati-hati benar, jangan sampai membeli makanan yang dimasak dengan lemak-babi."

Tamlikha kemudian berkata: "Hai saudara-saudara, aku sajalah yang berangkat untuk mendapatkan makanan. Tetapi, hai penggembala, berikanlah bajumu kepadaku dan ambillah bajuku ini!"

Setelah Tamlikha memakai baju penggembala, ia berangkat menuju ke kota. Sepanjang jalan ia melewati tempat-tempat yang sama sekali belum pernah dikenalnya, melalui jalan-jalan yang belum pernah diketahui. Setibanya dekat pintu gerbang kota, ia melihat bendera hijau berkibar di angkasa bertuliskan: "Tiada Tuhan selain Allah dan Isa adalah Roh Allah."

Tamlikha berhenti sejenak memandang bendera itu sambil mengusap-usap mata, lalu berkata seorang diri: "Kusangka aku ini masih tidur!" Setelah agak lama memandang dan mengamat-amati bendera, ia meneruskan perjalanan memasuki kota. Dilihatnya banyak orang sedang membaca Injil. Ia berpapasan dengan orang-orang yang belum pernah dikenal. Setibanya di sebuah pasar ia bertanya kepada seorang penjaja roti: "Hai tukang roti, apakah nama kota kalian ini?"

"Aphesus," sahut penjual roti itu.

"Siapakah nama raja kalian?" tanya Tamlikha lagi. "Abdurrahman," jawab penjual roti.

"Kalau yang kau katakan itu benar," kata Tamlikha, "urusanku ini sungguh aneh sekali! Ambillah uang ini dan berilah makanan kepadaku!"

Melihat uang itu, penjual roti keheran-heranan. Karena uang yang dibawa Tamlikha itu uang zaman lampau, yang ukurannya lebih besar dan lebih berat.

Pendeta Yahudi yang bertanya itu kemudian berdiri lagi, lalu berkata kepada Ali bin Abi Thalib: "Hai Ali, kalau benar-benar engkau mengetahui, coba terangkan kepadaku berapa nilai uang lama itu dibanding dengan uang baru!"

Imam Ali menerangkan: "Kekasihku Muhammad Rasul Allah s.a.w. menceritakan kepadaku, bahwa uang yang dibawa oleh Tamlikha dibanding dengan uang baru, ialah tiap dirham lama sama dengan sepuluh dan dua pertiga dirham baru!"

Imam Ali kemudian melanjutkan ceritanya: Penjual Roti lalu berkata kepada Tamlikha: "Aduhai, alangkah beruntungnya aku! Rupanya engkau baru menemukan harta karun! Berikan sisa uang itu kepadaku! Kalau tidak, engkau akan ku hadapkan kepada raja!"

"Aku tidak menemukan harta karun," sangkal Tamlikha. "Uang ini ku dapat tiga hari yang lalu dari hasil penjualan buah kurma seharga tiga dirham! Aku kemudian meninggalkan kota karena orang-orang semuanya menyembah Diqyanius!"

Penjual roti itu marah. Lalu berkata: "Apakah setelah engkau menemukan harta karun masih juga tidak rela menyerahkan sisa uangmu itu kepadaku? Lagi pula engkau telah menyebut-nyebut seorang raja durhaka yang mengaku diri sebagai tuhan, padahal raja itu sudah mati lebih dari 300 tahun yang silam! Apakah dengan begitu engkau hendak memperolok-olok aku?"

Tamlikha lalu ditangkap. Kemudian dibawa pergi menghadap raja. Raja yang baru ini seorang yang dapat berfikir dan bersikap adil. Raja bertanya kepada orang-orang yang membawa Tamlikha: "Bagaimana cerita tentang orang ini?" "Dia menemukan harta karun," jawab orang-orang yang membawanya.

Kepada Tamlikha, raja berkata: "Engkau tak perlu takut! Nabi Isa a.s. memerintahkan supaya kami hanya memungut seperlima saja dari harta karun itu. Serahkanlah yang seperlima itu kepadaku, dan selanjutnya engkau akan selamat."

Tamlikha menjawab: "Baginda, aku sama sekali tidak menemukan harta karun! Aku adalah penduduk kota ini!" Raja bertanya sambil keheran-heranan: "Engkau penduduk kota ini?"

"Ya. Benar," sahut Tamlikha.

"Adakah orang yang kau kenal?" tanya raja lagi.

"Ya, ada," jawab Tamlikha.

"Coba sebutkan siapa namanya," perintah raja.

Tamlikha menyebut nama-nama kurang lebih 1000 orang, tetapi tak ada satu nama pun yang dikenal oleh raja atau oleh orang lain yang hadir mendengarkan. Mereka berkata: "Ah…, semua itu bukan nama orang-orang yang hidup di zaman kita sekarang. Tetapi, apakah engkau mempunyai rumah di kota ini?"

"Ya, tuanku," jawab Tamlikha. "Utuslah seorang menyertai aku!"

Raja kemudian memerintahkan beberapa orang menyertai Tamlikha pergi. Oleh Tamlikha mereka diajak menuju ke sebuah rumah yang paling tinggi di kota itu. Setibanya di sana, Tamlikha berkata kepada orang yang mengantarkan: "Inilah rumahku!"

Pintu rumah itu lalu diketuk. Keluarlah seorang lelaki yang sudah sangat lanjut usia. Sepasang alis di bawah keningnya sudah sedemikian putih dan mengkerut hampir menutupi mata karena sudah terlampau tua. Ia terperanjat ketakutan, lalu bertanya kepada orang-orang yang datang: "Kalian ada perlu apa?"

Utusan raja yang menyertai Tamlikha menyahut: "Orang muda ini mengaku rumah ini adalah rumahnya!"

Orang tua itu marah, memandang kepada Tamlikha. Sambil mengamat-amati ia bertanya: "Siapa namamu?" "Aku Tamlikha anak Filistin!"

Orang tua itu lalu berkata: "Coba ulangi lagi!"

Tamlikha menyebut lagi namanya. Tiba-tiba orang tua itu bertekuk lutut di depan kaki Tamlikha sambil berucap: "Ini adalah datukku! Demi Allah, ia salah seorang di antara orang-orang yang melarikan diri dari Diqyanius, raja durhaka."

Kemudian diteruskannya dengan suara haru: "Ia lari berlindung kepada Yang Maha Perkasa, Pencipta langit dan bumi. Nabi kita, Isa as., dahulu telah memberitahukan kisah mereka kepada kita dan mengatakan bahwa mereka itu akan hidup kembali!"

Peristiwa yang terjadi di rumah orang tua itu kemudian di laporkan kepada raja. Dengan menunggang kuda, raja segera datang menuju ke tempat Tamlikha yang sedang berada di rumah orang tua tadi. Setelah melihat Tamlikha, raja segera turun dari kuda. Oleh raja Tamlikha diangkat ke atas pundak, sedangkan orang banyak beramai-ramai menciumi tangan dan kaki Tamlikha sambil bertanya-tanya: "Hai Tamlikha, bagaimana keadaan teman-temanmu?" Kepada mereka Tamlikha memberi tahu, bahwa semua temannya masih berada di dalam gua.

"Pada masa itu kota Aphesus diurus oleh dua orang bangsawan istana. Seorang beragama Islam dan seorang lainnya lagi beragama Nasrani. Dua orang bangsawan itu bersama pengikutnya masing-masing pergi membawa Tamlikha menuju ke gua," demikian Imam Ali melanjutkan ceritanya.

Teman-teman Tamlikha semuanya masih berada di dalam gua itu. Setibanya dekat gua, Tamlikha berkata kepada dua orang bangsawan dan para pengikut mereka: "Aku khawatir kalau sampai teman-temanku mendengar suara tapak kuda, atau gemerincingnya senjata. Mereka pasti menduga Diqyanius datang dan mereka bakal mati semua. Oleh karena itu kalian berhenti saja di sini. Biarlah aku sendiri yang akan menemui dan memberitahu mereka!"

Semua berhenti menunggu dan Tamlikha masuk seorang diri ke dalam gua. Melihat Tamlikha datang, teman-temannya berdiri kegirangan, dan Tamlikha dipeluknya kuat-kuat. Kepada Tamlikha mereka berkata: "Puji dan syukur bagi Allah yang telah menyelamatkan dirimu dari Diqyanius!"

Tamlikha menukas: "Ada urusan apa dengan Diqyanius? Tahukah kalian, sudah berapa lamakah kalian tinggal di sini?" "Kami tinggal sehari atau beberapa hari saja," jawab mereka.

"Tidak!" sangkal Tamlikha. "Kalian sudah tinggal di sini selama 309 tahun! Diqyanius sudah lama meninggal dunia! Generasi demi generasi sudah lewat silih berganti, dan penduduk kota itu sudah beriman kepada Allah yang Maha Agung! Mereka sekarang datang untuk bertemu dengan kalian!"

Teman-teman Tamlikha menyahut: "Hai Tamlikha, apakah engkau hendak menjadikan kami ini orang-orang yang menggemparkan seluruh jagad?"

"Lantas apa yang kalian inginkan?" Tamlikha balik bertanya.

"Angkatlah tanganmu ke atas dan kami pun akan berbuat seperti itu juga," jawab mereka.

Mereka bertujuh semua mengangkat tangan ke atas, kemudian berdoa: "Ya Allah, dengan kebenaran yang telah Kau perlihatkan kepada kami tentang keanehan-keanehan yang kami alami sekarang ini, cabutlah kembali nyawa kami tanpa sepengetahuan orang lain!"

Allah s.w.t. mengabulkan permohonan mereka. Lalu memerintahkan Malaikat maut mencabut kembali nyawa mereka. Kemudian Allah s.w.t. melenyapkan pintu gua tanpa bekas. Dua orang bangsawan yang menunggu-nunggu segera maju mendekati gua, berputar-putar selama tujuh hari untuk mencari-cari pintunya, tetapi tanpa hasil. Tak dapat ditemukan lubang atau jalan masuk lainnya ke dalam gua.

Pada saat itu dua orang bangsawan tadi menjadi yakin tentang betapa hebatnya kekuasaan Allah s.w.t. Dua orang bangsawan itu memandang semua peristiwa yang dialami oleh para penghuni gua, sebagai peringatan yang diperlihatkan Allah kepada mereka.

Bangsawan yang beragama Islam lalu berkata: "Mereka mati dalam keadaan memeluk agamaku! Akan ku dirikan sebuah tempat ibadah di pintu gua itu."

Sedang bangsawan yang beragama Nasrani berkata pula: "Mereka mati dalam keadaan memeluk agamaku! Akan ku dirikan sebuah biara di pintu gua itu."

Dua orang bangsawan itu bertengkar, dan setelah melalui pertikaian senjata, akhirnya bangsawan Nasrani terkalahkan oleh bangsawan yang beragama Islam. Dengan terjadinya peristiwa tersebut, maka Allah berfirman:

Dan begitulah Kami menyerempakkan mereka, supaya mereka mengetahui bahawa janji Allah adalah benar, dan bahawa Saat itu tidak ada keraguan padanya. Apabila mereka berbalahan antara mereka dalam urusan mereka, maka mereka berkata, "Binalah di atas mereka satu bangunan; Pemelihara mereka sangat mengetahui mengenai mereka." Berkata orang-orang yang menguasai atas urusan mereka, "Kami akan membina di atas mereka sebuah masjid."

Sampai di situ Imam Ali bin Abi Thalib berhenti menceritakan kisah para penghuni gua. Kemudian berkata kepada pendeta Yahudi yang menanyakan kisah itu: "Itulah, hai Yahudi, apa yang telah terjadi dalam kisah mereka. Demi Allah, sekarang aku hendak bertanya kepadamu, apakah semua yang ku ceritakan itu sesuai dengan apa yang tercantum dalam Taurat kalian?"

Pendeta Yahudi itu menjawab: "Ya Abal Hasan, engkau tidak menambah dan tidak mengurangi, walau satu huruf pun! Sekarang engkau jangan menyebut diriku sebagai orang Yahudi, sebab aku telah bersaksi bahwa tiada tuhan selain Allah dan bahwa Muhammad adalah hamba Allah serta Rasul-Nya. Aku pun bersaksi juga, bahwa engkau orang yang paling berilmu di kalangan ummat ini!"

Demikianlah hikayat tentang para penghuni gua (Ashhabul Kahfi), kutipan dari kitab Qishasul Anbiya yang tercantum dalam kitab Fadha 'ilul Khamsah Minas Shihahis Sittah, tulisan As Sayyid Murtadha Al Huseiniy Al Faruz Aabaad, dalam menunjukkan banyaknya ilmu pengetahuan yang diperoleh Imam Ali bin Abi Thalib dari Rasul Allah s.a.w.

Kisah Ashabul kahfi...anjing yg masuk surga

Kisah Anjing Ashabul Kahfi yang msuk surga Aku sangat setia dan aku rela dengan yang sedikit…… Ya… Akulah makhluk paling setia,yang puas dan ridha dengan apapun.Akulah Qithmir, anjing penghuni gua yang tertidur selama tiga ratus sembilan tahun, lalu bangun seperti orang yang tertidur setengah jam. Puji syukur kepada Allah, semua telah terjadi. Aku hampir kehilangan kepercayaan pada eksistensi keadilan di muka bumi ini. Kebanyakan manusia menganggap bahwa anjing adalah binatang yang hanya memikirka makanan dan menggonggong. Itu semua salah. Kebanyakan mereka juga menganggap kalau anjing adalah makhluk najis dan menjadi bahan ejekan, celaan, hinaan atau apapun yang sejenis itu. Sampai-sampai seorang manusia yang telah diciptakan dan dimuliakan oleh Allah SWT dengan tega berkata pada temannya, “Hai anak….(omongan yang menyinggung anak tersebut)” untuk menghina dan merendahkannya. Sebenarnya itu bukan penghinaan bagi kami para anjing, karena ketika ada makhluk tercipta sebagai seekor anjing tidak berarti ia telah kafir. Sesungguhnya Allah-lah yang berkehendak menciptakan kami sebagai anjing dan menciptakan yang lain sebagai manusia. Seandainya Allah mau menciptakan anjing menjadi manusia atau manusia menjadi anjing, sungguh Dia Maha Kuasa, dan tidak ada yang mampu menyanggah hukum serta kehendak-Nya. Kalau begitu, mengapa manusia berbuat jahat kepada kami dan membawa-bawa nama kami dalam sumpah serapah mereka? Mengapa? Aku akan menggonggong memprotes semua ini. Dalam gonggonganku aku akan berkata,”Ini zalim….!” Bagaimanapun, ini bukan kezaliman satu-satunya yang menjadi spesialisasi manusia. Boleh jadi inilah kezaliman paling sederhana yang mereka lakukan. Aku telah menyaksikan berbagai bentuk kezaliman, dimulai sejak aku lahir dan terus berlangsungbselama hidupku. Kalaulah bukan karena mukjizat yang terjadi pada kami di dalam gua niscaya0akan kukatakan pada keadilan,”Selamat tinggal”. Aku dilahirkan di suatu pagi yang cerah di sebuah kampung yang sudah hancur dekat kota Afsus. Kelahiranku di tempat ini akhirnya menentukan masa depanku selama-lamanya. Sudah menjadi kehendak taktirak muncul dalam kehidupan ini sebagai sebagai anjing yang sesat dan hidup di sebuah kerajaan yang zalim serta pada masa-masa kelabu. Ibu menyusuiku dan mati sebelum sempat menyusuiku dengan sempurna. Kematiannya bagai sambaran petir dikepalaku. Akan kuceritakan pada anda bagaimana ibu mati agar anda mengetahui hari-hari kelam yang kami lalui. Afsus adalah kota yang mempertuhankan hawa nafsu. Penguasa kafir pada Allah. Mayoritas penduduknya adalah orang-orang yang hanya bias ikut-ikutan dan tidak mempunyai pendirian. Berarti sebuah tragedi ketika anda dilahirkan di sebuah kota ketika masyarakatnya tidak mempunyai prinsip hidup. Itu berarti anda telah dilahirkan di sebuah ‘NERAKA’. Anda tidak bias menyanggkal, satu saat boleh jadi akan dizalimi meskipun anda tidak bersalah. Selama manusia itu kafir pada Allah, ini artinya segala sesuatu adalah boleh. Maka,tidak ada dosa yang lebih besar dari kekafiran. Secara mengejutkan penduduk Afsus melihat jumlah kami semakin bertambah. Begitu kata mereka. Mereka berkata, “Jumlah anjing semakin bertambah, mereka selalu menggonggongsiang dan malam sehingga kami tidak dapat tidur. Mereka memakan makanan kami, menggigit anak kami, dan mangotori tempat peribadatan kami. Mereka semua pantas dimusnahkan.” Begitulah kata mereka, dan Allah-lah yang Mahatahu kalau mereka terlalu berlabihan. Seandainya setiap mereka, daripada menyimpan makanan di rumah dan menumpuknya sampai rusak lalu melemparkan pada kami sepotong roti saja, niscaya kami akan mengurangi gonggongan kami dan akan hidup bersama mereka dalam kedamaian. Intinya mereka mengaluh tidak bias tidur malam hari karena gonggongan kami. Mereka lupa bahwa gonggongan hati merekalah yang menjadi menyabab mereka sulit tidur. Mereka memutuskan untuk memusnahkan kami. Lalu keluarlah orang-orang bersenjatakan pedang untuk membungkam suara gonggongan anjing. Aku melihat bagaimana pedang itu diayunkan dan diarahkan pada kami sehingga terdengar suara jeritan kami, atau ada setengah dari kami yang melolong panjang ketika melihat setengah kawannya yang lain terpekik tidak jauh darinya. Aku masih bayi dan belum sempurna menyusu saat mereka masuk kampong kami sambil menghunus pedang. Aku sedang tidurdi antara dua buah batu besar di kampong itu. Setengah tidur setengah terjaga. Ibu menyembunyikanku bersama dua saudaraku lalu ia pergi ke pasar. Ketika ia kembali aku lihat ibu berlari dikejar manusia sementara pedang mereka telah berlumuran darah. Pedang itu mendarat dilengan ibuku hingga ia terkapar di tanah bersimbah darah. Sambil menggonggong lemah ia berkat pada kami,”Bersembunyilah baik-baik. Penduduk kota sudah gila dan mereka keluar untuk membunuh para anjing…..” Kuasksikan dengan mata kepalaku akhir dari hidup ibuku. Waktu itu aku berangan-angan meski ada permusuhan lama antara kami dengan para serigala. Seandainya aku menjadi serigala yang memiliki seribu taring, seribu cakar, dan seribu nyawa. Aku menggigil ketakutan di tempatku sampai ibu tak bergerak lagi dan orang-orang itu pun berbalik. Setelah itu aku keluar dari tempat persembunyianku dan kupanggil ibu tapi ia tidak juga bangun. Kubisikkan ke telinganya,”Aku lapar dan ingin menyusu…..”tapi ia tidak menjawab. Ia terbaring di tengah-tengah danau berwarna merah. Salahsatu kakinya masih bergerak-gerak menggelepar sementara bagian badannya yang lain sudah diam. Begitulah, aku sudah menjadi yatim sebelum sempat menyempurnakan masa susuanku. Aku hadapi hidup ini sebatang kara sejak aku lahir. Kalau bukan karena anjing betina teman ibuku, kalau bukan karena pangkuannya yang penuh kasih sudah pasti aku tidak akan bis berbicara dengan anda saat ini. Dialah yang menyusuiku hingga aku dewasa dan aku pun telah merawatnya di masa tuanya. Kusimpan untuknya tulang dan roti sehingga bila ia datang mengunjungiku , kukeluarkan makanan itu lalu kuberikan padanya. Lalu aku melihatnya sedang makan sambil menggerak-gerakkan ekor. Allah yang tahu kalau aku telah memberinya makan sementara aku sendiri lapar. Aku dihadapkan pada berbagai problem dunia saat aku sudah dewasa. Aku mesti keluar menuju kehidupan, berlari di bawah terik matahari demi sesuap makanan dan cinta.Matahari adalah satu-satunya makhluk yang bersifat mulia di dalam kerajaan ini. Adapun sesuap makanan adalah makhluk yang pelit. Sementara cinta selalu tersedia. Ada sebuah hal yang cukup sulit untuk membayangkan arti kehidupan keras dialami oleh anjing- anjing sesat atau liar, seperti kata mereka. Sebuah kehidupan yang keras. Kamu harus mengatur bagaimana mata pencaharian, berlari di waktu yang tepat, dan setiap hari harus tidur di tempat yang berbeda dari hari kemarin. Tidak ada kenangan. Yang ada hanya rasa takut yang selalu menghantuimu. Selalu memiliki perasaan dikejar dan diburu. Dalam kehidupan seperti itu, aku berkenalan dengan seorang lelaki yang membuat aku berubah. Pertemuan dan perkenalan kami terjadi di sebuah kampong. Waktu itu aku melihat ada penggembala yang sedang menuntun kambing-kambingnya ke salahsatu ladang. Di sana ia tinggalkan kambingnya lalu ia shalat. Suatu hari kudekatinya ketika sedang shalat. Kudengar ia mengagungkan Allah dan berdoa pada-Nya sebagai tuhan Yang Maha Esa yang tidak mempunyai sekutu. Dengan fitrahku yang bersih aku dapat mengetahui bahwa aku tengah berada di depan seorang lelaki beriman. Aku duduk di sampingnya sampai ia selesai shalat lalu ia menaleh padaku. Terus terang aku tidak merasa takut padanya. Ia telah selesai sholat lalu ia mengeluarkan makanannya kemudian ia duduk sambil memakan makanannya. Sepotang roti dan sekerat daging.Kutatap sepotong daging itu dengan tajam, aku tidak melihat sepotong tulang di sana. Aku mulai putus asa, namun begitu kugoyangkan juga ekorku. Ia melihatku menggoyang-goyangkan ekor lalu dikeluarkannya potongan daging itu dari mulutnya sebelum ia sempat mengunyahnya dan ia melihat padaku. Kugoyangkan ekorku lebih keras. Ia ulurkan tangannya yang berisi sepototong daging itu padaku lalu ia bertanya padaku dengan lembut apakah kau merasa lapar? Kugoyangkan ekorku lebih keras tetapi aku tetap tak beranjak dari tempatku. Siapa tahu? Boleh jadi sikapnya yang lembut itu menyimpan maksud untuk menangkapku atau boleh jadi ia memperolok-olokku. Tidak ada gunanya banyak berharap.Pengembala itu kembali mengulurkan tangannya yang berisi sepotong daging padaku. Kugoyangkan ekorku lebih keras karena gembira tapi aku tetap duduk di tempatku. Aku ingin menggigit diriku untuk mengetahui apakah aku sedang tidur atau bangun. Tidak salah lagi aku memang sedang bermimpi. Aku memang sering bermimpi melihat pemandangan seperti ini; seorang lelaki duduk sambil menggenggam potongan roti dan daging . Ia makan roti dan diberikannya daging padaku. Ini benar-benar mimpi, tidak salah lagi. Tapi cuaca begitu panas dan lidahku menjulur keluar, bagaimana mungkin orang yang bermimpi merasakan sengatan matahari? Ataukah mimpi sudah mengalami perkebangan? Pengebala itu tahu kalau aku tidak mudah mepercayainya. Lalu ia lemparkan padaku potongan daging. Ada jarak 4 meter antartaku dengannya. Potongan daging itu melayang di udara, segera ku angkat kepala dan kusadari bahwaaku tidak sedang bermimpi. Aku melompat ke udara dan kuarahkan mulutku ke arah target lalu ku tangkap. Semua badanku menari, ekorku menari, mulutku menari, gigiku menari, lambungku menari, mataku menari, dan dunia semuanya bernyanyi. Oh daging… alangkah lezatnya dirimu… sambil menari dan dan menggendong aku berkata pada sang pengmbala, “Sepotong lagi kalau boleh… Ini pertama kali selama hidupku aku merasakan daging… “. Sang penggembala tersenyum simpul dan aku tahu kalau potongan daging yang kumakan tadi adalah semua makanannya. Aku berlari mengikutinya dan kukecup kedua kakinya , kucium aroma aroma badannya, dan kugoyangkan ekorku. Kurekam aromanya di memoriku dan aku bersumpah untuk hidup melayani aroma badan ini selamanya.Sang penggembala lalu beranjak pulang dan aku mengikutinya di belakang. Aku telah memutuskan untuk menjaganya dan kambing-kambingnya. Aku akan begadang setiap malam supaya ia tidak ditimpa hal-hal yang tidak diinginkan. Iakembali berusaha mengusirku tapi aku semakin lekat dengannya dan kucium kedua kakinya. Akhirnya ia biarkan aku mengikutinya. Aku terkejut. Ternyata ia pergi menuju istana raja. Aku mulai merasa tidak enak tapi aku tetap masuk bersamanya membawa domba-domba untuk kerajaan. Tampaknya ia seorang upahan untuk menjual domba-domba ke istana. Hari itu di istana, aku menemui kisah cinta pertamaku. Aku bertemu dengan seekor anjing betina Ratu Priska.Indah… Indah sekali… maksudku istana raja yang dilihat dari dalam. Aku jadi teringat kampong halaman halaman tempat aku hidup yang telah rusak, lalu kubandingkan dengan taman kerajaan ini. Aku merasakan perbedaan kelas yang sangat jelas antara keduanya.Di taman istana kerajaan kulihat sebuah patung untuk tuhan paling besar di kota ini. Tiba-tiba aku teringat kalau aku tadi minum air cukup banyak. Aku segera berlari kea rah patung itu lalu kuangkat kedua kakiku dan… ‘aku kerjai’.Seekor anjing cokelat keluar dari taman menghampiriku sambil menggonggong. Sebuah gonggongan lemah dari gonggongan istana. “Kenapa kau menggonggong?’ tanyaku padanya. “Kenapa kau lancang sekali? Apakah kau tak tahu kalau itu patung tuhan paling besar yang disembah di Afsus?” ia balik bertanya. “Tuhan paling besar atau tuhan paling kecil? Aku terpaksa nona, kau tak perlu menggonggong… “ “Penjaga istana akan membunuhmu kalau mereka tahu kau telah mengotori sesembahan mereka…” Setengah berbisik aku berkata,”Kau anjing yng manis dan tidak akan mengatakannya pada siapapun. Apakah kau juga mempercayai khurafat- khurafat orang- orang itu? Bukankah mereka sangat bodoh ketika menyembah batu-batu?”“Kau makhluk pemberani pertama yang pertama kutemui di kota ini… kuharap kau catat kekagumanku padamu…” “Akan kucatat rasa kagum itu dan terima kasih.” “Dari mana kau dating? Kenapa kau begitu kurus? Tulangmu sampai tersembul dari dagingmu… Kau sangat lucu…” “Aku datang dari salah satu kampung yang telah musnah. Hari ini aku telah menjadi pelayan seorang penggembala… Rahasia kurusnya badanku adalah karena kekurangan gizi, manusia pelit, harga-harga barang melonjak dan daging sudah sangat jarang. Coba kau bayangkan, aku belum pernah mengecap rasa daging selama hidupku kecuali hari ini. Sang penggembala itu memberikannya kepadaku.” “Kuharap kau tidak menyebut-nyebut daging di depanku. Aku sudah bosan makan daging setiap hari dan aku rindu potongan tulang.” “kaum mengatakan kaum makam dagingsetiap hari? “ “Ya…” “Apakah kau punya sisa daging?” “Daging makan siang di dalam piring dan belum aku sentuh…” “Apakah aku bleh melihatnya?” “Ikuti aku…” Aku mengikutinya. Ketika ada bejana besar berisi daging, kita berhenti,”Silahkan makan semuanya…” “Kau jangan menggonggong setelah aku selesai makan atau menuduhku telah mencuri. Aku tidak ingin mengecewakan penggembala.” Kudekatkan kepalaku ke bejana dan kulahap daging tersebut sekali telan. “Bagaimana bisa kau makan secepat itu? Kasihan sekali dirimu… Aku berpikir untuk kawin denganmu… Ternyata aku cinta padamu…” “Aku mohon maaf untuk kawin dan terima kasih atas cintamu. Di hatiku tidak ad atempat untuk cinta. Untuk mencari sesuap makanan saja sudah menghabiskan seluruh perasaanku.” “Pemberani… kurus… simpatik dan filosofis…..Biarkan aku mencium aromamu… Baumu seperti bunga Banfasaj…..” “Di kampungku memang ada pohon yang sesungguhnya… Kurasa kemewahan membuat indra penciumanmu menghilang…” “Kepalaku mabuk setiap kali aku melihatmu berdiri di sampingku. Penuhilah permintaanku, kawinilah aku…” Aku segera menuju sang penggembala. Saat itu raja sedang bercakap-cakap pada sang penggembala ,”Aku tidak pernah melihatmu sekalipun sujud pada tuhan-tuhan kami hai penggembala. Kuperhatikan engkau lewat di patung-patung tersebut tanpa bersujud sama sekali… Apakah kau sudah gila?” “Penglihatanku sudah melemah tuanku, sehingga aku tidak bias melihat tuhan anda yang terhormat…” Aku mulai gemetar. Bagaimana seandainya raja tahu kalau aku telah mengencingi tuhannya. Raja kembali berkata,”Ini kerajaanku… Tidak boleh ada yang menyembah selain tuhan yang telah kutentukan. Manusia tidak boleh punya pendapat selain mengikuti pendapatku.Aku telah putuskan bahwa ujung pedanglah pendapat yang mesti dipatuhi di kerajaan ini. Aku akan menghukum sampai kepada mimpi-mimpi dan ide-ide yang masih terlintas di kepala.” “Semoga Tuhan memberkati rencan masa depan raja. Enam potong emas untuk sapi, domba dan kambing. Aku telah bawakan sapi yang gemuk untuk tuanku, semoga dapat memnghangatkan perut tuanku…” “Kau bias pulang penggembala,” kata raja tiba-tiba. Raja menyerahkan harga seluruh pesanan hewan-hewan itu lalu kami pulang. Sang penggembala tidak langsung menuju rumahnya. Ia melewati lebih dari satu rumah dan mengetuk pintu-pintu rumah tiu pelan-pelan. Setelah itu ia kalungkan di leherku sebuah rantai dan tembaga dan ia tinggalkan aku di taman rumahnya yang tidak ada tanamannya. Di tengah malam, sang penggembala bangkit dari kasurnya yang hangat. Aku mengikutinya. Ia keluar dari kota menuju bukit yang teletak dekat dari kota. Aku terus mengiringinya. Ia lalu turun ka sebuah tempat yang terletak antara dua bukit itu. Aku turun bersamanya. Di sana sudah ada enam orang. Sebagian dari mereka pernah kulihat di istana raja dan sebagian yang lain belum pernah aku lihat sama sekali. Mereka saling berpelukan dan mulai dialog sambil berbisik. Sang penggembala mulai angkat bicara, “Dari pertanyaan raja hari ini, mungkin ia sudaj tahu hubunganku dengan menterinya. Kita harus bertindak cepat.” Yang lain berkata,”Raja sudah mulai gila. Besok ia akan mulai aksi terorisnya.” Yang lain menimpali,”Ia telah memutuskan untuk memusnahkan siapa saja yang menyembah selain tuhan-tuhannya yang banyak itu”Yang ketiga mulai angkat bicara,”Menurutku, kita mesti menunggu esok harilalu kita berkumpul di sini di waktu yang sama. Apakah raja benar-benar melakukan aksi teronya. Kita akan pergi meninggalkan kerajaan ini dan pergi ke gua dekat sini untuk menghabiskan siang di sana dan ketika malam kita akan menyusup ke kota.”Pertemuan selesai. Kami pulang sendiri-sendiri. Sang penggembala sudah tidur. Aku berkata dalam hati,”aku akan menemui Nahisy di istana …”Aku akhirnya pergi ke istana dan kulihat ia sudah menunggu. Saat aku pulang, ia berkata padaku,”Berikan padaku sesuatu yang dapat mengobati kerinduanku…Aku lepaskan rantai tembaga dari leherku. Rantai itu mencekik leherku. Aku tidak tahu kalau ini adalah pertemuan terakhirku dengannya. Pagi datang, cahaya matahari berkilauan di mata pedang yang membabat pundak-pundak manusia meski hanya berupa prasangka. Raja telah memutuskan untuk memaksa manusia pada pendapatnya dengan kekuatan pedang para pasukannya sebagai sarana utama untuk memaksakan suatu kehendak. Kaki tangan pejabat kota telah menangkap banyak orang dan merajam mereka dengan batu sampai mati. Kemudian menggelar pengadilan untuk menjatuhkan hukuman mati pada mereka. Apabila seorang hakim bertanya,”Mana para tertuduh yang akan dijatuhi hukuman rajam?” Kaki tangan pejabat kota itu mengatakan bahwa pedang raja telah mendahului keadilan para hakim. Lalu, para hadirin akan bertepuk tangan karena kagum pada keadilan dan ketangkasan raja. Begitulah, sudah banyak kepala yang melayang dan tidak terhitung jumlah mereka yang telah dirajam. Aku berada dalam sebuah kesulitan besar dan pengebala pun terancam akan dibunuh\ dirajam jika kedoknya terbongkar. Leherku juga tidak akan selamat dari hukuman sebagai anjing yang hidup bersamanya. Bagaimana carannya ini? Apakah aku akan meningalkannya ? Sama saja aku dengan babi kalau kulakukan itu. Aku adalah anjing yang sifat utamanya adalah setia. Aku berkata dalam hati, ”Aku tidak akan meninggalkannya meski leherku akan melayang menjadi seribu potong.” Sebaliknya, cintaku kepada penggembala semakin bertambah dan di saat yang sama aku semakin heran pada penduduk kota. Setiap hari mereka menyaksikan orang terbaik mereka tetapi mereka hanya diam. Berbagai peristiwa telah berlangsung begitu cepat. Kami mendengar suara ketukan di pintu rumah sang penggembala. Aku menggonggong. Penggembala membukakan pintu. Munculah enam orang lelaki. Di antara mereka ada dua orang menteri kerajaan. Keenam laki-laki itu berkata pada penggembala,”Mari kita ke gua. Cepatlah! Kita tidak punya banyak waktu!” Kami segera mengikuti mereka menuju gua. Penggembala menyuruhku untuk duduk di depan pintu gua untuk berjaga dan menggonggong kalau ada orang asing mendekat. Aku tidak ingin tertidur. Ini adalah tugas resmi pertama yang diberikan penggembala kepadaku dan aku harus membuktikan kesetiaanku.Mereka terpisah-pisah di dalam gua itu lalu semuanya tertidur. Tugasku adalah menjaga mereka. Kubentangkan kakinku lalu aku ambil posisi berjaga-jaga. Kupejamkan sebelah mataku dan kubuka sebelah yang lain. “Aku akan menjaga orang-orang yang beriman pada Allah ini,” bisikku dalam hati. Tiba-tiba sebelah mataku yang terbuka tadi tertutup secara otomatis. Aku akhirnya tertidur. Aku yang pertama sekali bangun. Aku terasa mati kelaparan. Kulihat buluku sudah sangat panjang hingga membuatku sendiri terkejut melihatnya. Ada apa ini? Apakah kami telah tertidur selama seminggu?Aku menggonggong untuk membangunkan mereka. Mereka terbangun dan keluar dari dalam gua. Dengan sinar matahari aku dapat melihat mereka derngan jelas. Janggut mereka sangat panjang sampai menutupi mata kaki. Juga rambut mereka, rambut mereka panjang terurai di punggung layaknya jubah seorang pengantin. Tampang mereka menakutkan sekali. Rasanya aku ingin sekali mencium aroma mereka sebelum tidur. Mereka mulai bertanya-tanya dalam gua. Sang penggembala diutus untuk keluar dari gua. Aku ikut keluar bersamanya. Kejanggalan mulai terasa. Di mana kota Afsus? Di sini hanyalah kota lain, corak pakaian yang berbeda dan anjing yang tidak sama dengan yang kulihat sebelum tidur. Orang-orang berkeliling di sekitar penggembala sambil menunjuk pakaiannya. Mereka berbisik, “Apakah ia seorang pendatang baru? Lihatlah! Bulunya sangat panjang” Anjing-anjing menggonggong di sekitar kami kemudian mereka lari ketakutan seolah-olah dikejar seribu setan. Kami masuk ke sebuah took makananyang ditunjukkan oleh orang yang mengerumuni kami. Di sana kami membeli beberapa potong daging dan roti. Penggembala mengeluarkan sekeping uang emas yang diberikan raja sebelum ia tertidur. Baru saja si penjual melihat uang penggembala ia langsung berteriak,”Mata uang kuno! Dari mana kau dapatkan hai orang asing? Apakah kau mendapatkan harta karun?” Suasana semakin rebut. Orang-orang itu berkerumun mengelilingi sang penggembala. Sebaiknya aku pergi menemui Nahisy, karena hanya dia yang bisa menceritakannya padaku apa yang sebenarnya terjadi. Ternyata yang tampak di hadapanku adalah istana lain, bukan istana raja yang kemarin kutinggalkan. Tiang-tiangnya masih separti dulu meskipun sudah dimakan usia. Aku menggonggong pelan,”Nahisy… di mana engkau…?” seekor anjing berwarna cokelat keluar dan bertanya-tanya,”Siapa yang telah memanggil nenekku dari kematian?” Aku benar-benar terkejut. Ia benar-benar Nahisy. Anjing tersebut berkata,”Aku adalah Nahisy kecil…”Aku kira ia sedang bercanda denganku. Maka aku mendekat padanya.”Apa yang kau mau hai anjing asing? Lelucon apa ini Nahisy?” tanyaku sambil menaha sabar. Ke mana pemalumu? Ke mana putih matamu…?”Ia berkata sambil tertawa, “Semuanya maish ada kecuali mata yang putih dan rasa malu. Siapa engkau dan apa maumu?” “Sampai beginikah kau berubah dalam satu malam? Wahai kesetiaan yang telah lekat secara palsu pada bangsa anjing? Di laut penghianatan mana kau berbaring?” Ia berkata penuh heran,”Kenapa engkau menangis seperti itu? Aku belum pernah melihatmu sebelum ini.” Akhirnya kusadari ia benar-benar tidak mengenaliku. Hal ini memang banyak terjadi dalam dunia anjing. Dalam pedih aku berkata,”Kau tidak lagi mengenalku setelah semua yang terjadi? Langit terbelah dalam hatiku, bintang jatuh terbakar, matahari padam. Apakah cintamu padaku sebelum kita melahap santapan malam itu telah mati? Aku belum punah, aku masih hidup selama engkau masih hidup.” Ia berkata penuh haru,”Perkataan itu tidak diucapkan anjing manapun padaku seumur hidup meski aku banyak mengenal anjing. Apa yang telah kulakukan padamu sampai kau melolong seperti itu, bagaimana mungkin aku pernah menghianatimu sementara aku tidak pernah melihatmu sebelum ini?” Aku gerakkan lehernya dan kulihat kalung tembaga yang kuhadiahkan kepadanya pada malam perkawinan kami. Aku berkata padanya,”Bagaimana kau dapat tahan pada kalung di lehermu…Tidakkah tembaganya membakar lehermu? Kau khianati orang yang telah menghadiahkan padamu kalung itu kemudian kamu pakai dengan penuh congkak..” Ia mundur selangkah. “Oooh... aku tahu sekarang ceritamu! Kalung ini bukan milikku melainkan kalung milik anjing ratu priska, Ia telah mati sejak 300 tahun lalu. Kalung ini kami warisi dari generasi ke generasi…Apakah kau yang telah menghadiahkan kalung ini padanya? Apakah kau Qithmir? Apakah kau anjing yang dicintainya? Ia mati sambil melolong untuk bersumpah setia kepadamu. Apakah kau…” Aku tidak dapat mendengar kata-kata selanjutnya…Aku merasakan diriku hancur dan lenyap… Mulailah hakikat yang sesungguhnya tergambar dalam benakku. Kalau Nahisy benar-benar mati 300 silam, berarti kami telah tertidur selama 300 tahun lebih. Badanku gemetar tetapi aku mulai mengerti. Patung yang disembah Afsus sudah lenyap. Ini artinya bahwa imanlah yang menang. Apakah kami telah tidur selama tiga ratus tahun untuk menyingkap rahasia ini? Bagiku sendiri, Nahisy telah pergi dan hilang. Ia telah mati. Ini yang lebih penting bagiku daripada masalah lain. Aku tenggelam dalam tangis panjang dan kubenamkan kepalaku di tanah lalu aku melolong. Sambil mendekat padaku, cucu Nahisy berkata,”Oh Tuhan… sampai sedalam itukah kau mencintainya? Tadi kukira kau berbicara padaku. Kukira kau telah menggodaku. Kenapa hatiku berdebar saat melihatmu? Apakah cinta mampu bertahan sepanjang masa? Kenapa kau tidak menjawabku? Sikap masa bodohmu bias membunuhku. Aku lebih cantik dari neekku Nahisy. Lihatlah bagaimana aku merawat bulu-buluku…” Sambil menyandarkan kepalanya di dadaku ia berkata, “Cobalah untuk melupakannya. Pandanglah aku dan berusaha melupakannya…” Kusingkirkan ia dariku lalu aku kembali ke gua. Ia memanggilku dan menggonggong mengisyaratkan cinta. Ia terus memohon dan menggerak-gerakkan ekornya. Tetapi aku tenggelam dalam keputusasan dan kesedihan. Nahisy telah pergi. Aku tidak akan mendengar suaranya lagi, aromanya lagi, dan pancaran cintanya. Seluruh pelosok kota seolah pecah dalam tangis. Aku dikejar anjing-anjing kota. Mereka menggonggong kemudian lari ketakutan. Aku semakin merasa kesepian dan putus asa. Rasanya kedua kakiku sudah tak mampu lagi membawaku ke gua. Kulihat Ashabul Kahfi juga merasakan apa yang kurasakan. Mereka sangat bingung dan saling bertanya. Aku berlari menuju sang penggembala dan kurebahkan badanku di kakinya lalu aku menangis. Aku tidak punya siapa-siapa selain kamu. Nahisy telah pergi… ia sudah mati. Sang penggembala mengusap kepalaku. Kepalaku rasanya sangat pusing. Kudengar penggembala bertanya pada sang menteri,”Menurut mereka berapa lama kita tinggal di gua?” “309 tahun” jawab sang menteri.“Bagaimana mungkin kita tidur selama itu?”“Ini semua kekuasaan Allah…” “Allah telah memperlihatkan pada kita akibat orang-orang yang mendustakan-Nya” kata penggembala tiba-tiba. “Kau benar penggembala. Raja yang zalim itu telah kalah dan tuhan-tuhan mereka berguguran. Siapa pernah menyangka kalau ini akan terjadi…”“Aku merasa sangat asing di kota lalu aku kembali ke gua seperti seorang yang pergi ke rumahnya. Anak-anak dan istriku telah mati. Di kota tak ada seorang pun yang mengerti cucuku…’ Kepedihan yang ia rasakan serupa dengan kepedihanku. Aku menggonggong keras. Aku teringat Nahisyku dan kubandingkan cucu dari cucunya, tetapi kesedihanku padanya semakin bertambah.Terdengar suara ribut-ribut sedang mendekati gua. Aku lupakan kesedihanku lalu aku melompat ke pintu gua dan menggonggong. Tampak raja kota baru bersama para menterinya serta tokoh-tokoh pembesarnya berada di jajaran terdepan masyarakat Afsus seluruhnya. Mereka semua datang berbondong-bondong menuju gua sambil memegang ranting pohon zaitun dan bunga-bunga. Ternyata cucu Nahisy juga di antara mereka. Baru saja aku lihat kumpulan manusia itu aku langsung menggonggong keras sebanyak dua kali sehingga mereka semua berhenti. Raja menunjukku,”Bersama mereka juga ada anjing… Sungguh ajaib sekali.” Salah seorang menterinya berkata,”Anjing itu telah tidur bersama orang suci itu selama 309 tahun…” Aku kembali menggonggong sehingga mereka tetap berdiri di posisi mereka. Salah seorang penjaga raja mengangkat pedangnya untuk menakut-nakutiku tapi gonggonganku semakin keras. Raja berkata sambil menahan tangan penjaganya,”Jangan sentuh anjing penuh berkah ini. Ia juga tidur selama ashabul kahfi itu tidur. Kita juga tidak boleh membunuh anjing-anjing yang tidak bersalah. Orang yang beriman pada Allah tidak akan menyakiti makhluk-makhluk-Nya yang lebih lemah.” Ternyata keadilan sudah kembali ke muka bumi. Aku berhenti menggonggong. Ketika iman pada Allah sudah kembali, keadilan pun juga ikut kembali. Raja berteriak,”Wahai orang-orang suci… keluarlah salah seorang dari kalian. Ini raja Afsus yang sedang berbicara dengan kalian…”Sang penggembala keluar diiringi teman-temannya. Raja dan menterinya tunduk memberi hormat diikuti seluruh masyarakat. “Wahai orang-orang suci, kami ingin mendengar kisah kalian…” seruh raja.Karena aku sudah tahu kisahnya lalu aku berbalik ke pintu gua kemudian duduk. Cucu Nahisy datang dan berkata ,”Kenapa kau duduk sendirian? Apakah kau masih mengingatnya…?” “Aku hanya tidur satu malam, bagaimana mungkin aku akan melupakan semuanya hanya dalam satu malam?” “Kau telah tidur bertahun-tahun…” “Kedua mataku memang tidur tapi hatiku tetap bangun, bagaimana mungkin aku akan melupakan semuanya…?” “Kulihat kau memalingkan kepalamu dariku…” “Hatiku masih teringat padanya…” “Kesetiaan adalah tabiat aslimu hai Qithmir, tapi kesetiaan itu telah melukai hatiku. Apa kau kira kau bukan lagi seekor anjing?”“Aku tidak tahu… Kami sudah mati tapi ternyata tidak mati… Kami tidur tapi bagaimana mungkin kami tidur 309 tahun. Otakku pusing dan hatiku tumpah di dadaku seperti air yang tumpah. Aku tidak merasa menjadi anjing lagi di muka bumi ini. Mereka semua lari dan menjauhi diriku.”“Tapi aku tidak lari darimu… Malah kaulah yang lari dariku”“Hasilnya sama saja. Aku benar-benar merasa terasing. Larinya mereka dariku itulah yang menyebabkan aku lari darimu. Tidur di gua telah memisahkan kita, aku bukanlah milikmu. Ada pembatas antara aku dan masa ini ketika kupejamkan mataku di gua. Aku adalah milik sejarah. Aku telah menjadi satu tanda di antara tanda-tanda kebesaran Allah.” Aku merasa terasing, bingung dan sedikit bangga. Tidak kumungkiri kesedihanku pada Nahisy semakin bertambah, tapi di saat yang sama kebahagiaanku semakin bertambah. Apakah menurutmu aku sedang menuju Nahisy? Seolah-olah ia ada di sana… di sebuah tempat yang tenang, gelap, dan indah… lalu kurebahkan diriku dalam kegelapan cahaya…