Minggu, 13 November 2016

Kenapa Huruf Arab Ditulis dari Kanan ke Kiri

Pernahkah kamu berpikir kenapa huruf Arab ditulis dari kanan ke kiri ? Sedangkan huruf latin dari kiri ke kanan? dan huruf China dari atas ke bawah?

Mungkin kamu pernah memikirkannya, dan sampai saat ini mungkin tidak mendapatkan jawabannya. Nah, bagi kamu yang mungkin ingin tahu alasan dari cara penulisan yang berbeda-beda itu, berikut kita akan bahas bersama.

Semua itu dimulai dari sejarah yang ada sejak jaman dahulu. Berdasarkan buku The Fundamentals of Typography, arah membaca sebuah tulisan berkaitan dengan sejarah.

Ibnu Abbas, Sahabat Cilik Rasul yang Diremehkan

Umar bin Khattab radhiallahu'anhu seorang sahabat Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam suatu hari pernah membawa Ibnu Abbas radhiallahuanhuma yang juga sahabat Rasulullah yang saat itu masih muda ke perkumpulan orang-orang tua yang pernah ikut perang Badar.

Orang-orang tua ini berkata kepada Umar, "Kenapa kau bawa anak kecil ini? Di rumah kita juga ada." Umar menjawab, "Ya, begitulah."

Sampai satu saat Umar bin Khattab sengaja mengumpulkan orang-orang tua tersebut dan turut mengundang pula Ibnu Abbas. Umar bertanya kepada orang-orang tua tersebut, "Apa komentar kalian tentang ayat:

"Apabila telah datang pertolongan Allah dan kemenangan, dan kamu lihat manusia masuk agama Allah dengan berbondong-bondong, maka bertasbihlah dengan memuji Tuhanmu dan mohonlah ampun kepada-Nya. Sesungguhnya Dia adalah Maha Penerima taubat." (QS An Nashr ayat 1-3)

Sebagian orang-orang tua itu menjawab, "Allah menyuruh kita untuk memuji dan minta ampun kepada-Nya ketika datang pertolongan Allah." Sebagian lainnya diam saja.

Kemudian Umar bin Khattab bertanya kepada Ibnu Abbas, "Benar begitu Ibnu Abbas?" Ibnu Abbas menjawab, "Tidak!" Umar menyahut, "Lantas bagaimana?"

Ibnu Abbas menjawab, "Ayat itu adalah sinyalemen tentang dekatnya kematian Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam, Allah memberitahunya dengan ayatnya, 'Jika telah datang pertolongan Allah dan kemenangan, itu berarti penaklukan Mekkah dan itulah tanda ajalmu Muhammad, oleh karena itu "Bertasbihlah dengan memuji Rabbmu dan mohonlah ampunan, sesungguhnya Dia Maha Menerima taubat."

Umar mengatakan, "Nah, ini tafsir yang saya tahu."

Beginilah seharusnya seorang pemuda, tetap menjaga kesantunan di depan para tetua meski memahami suatu ilmu. Tidak angkuh dan memamerkan ilmu kecuali dirasa perlu atau ditanya dan tentu dengan adab-adab yang tidak membuat para tetua merasa digurui atau direndahkan.

Semoga para tetua pun tidak membiasakan diri meremehkan anak muda, hanya karena usianya. Bukankah ilmu tidak diukur dari lamanya hidup? Melainkan dari kesungguhan belajar dan bimbingan Allah Ta'ala.

Kisah Ibnu Umar radhiallahu’anhu, Penakluk Singa yang Ahli Sedekah

Ibnu Umar radhiallahu’anhu (Abdullah bin Umar), sejak masih kecil telah masuk Islam, bersama dengan ayahnya Umar bin Khattab radhiallahu’anhu.

Kemana pun Rasulullah pergi, ia sering turut menyertainya. Ibnu Umar memang tercatat masih ipar Rasulullah, karena saudari kandungnya yang bernama Hafsah binti Umar menjadi istri Rasulullah.

Ibnu Umar berusaha mencontoh sifat dan kebiasaan Rasulullah, seperti cara memakai pakaian, makan, minum, bergaul, dan sebagainya. Beliau juga dikenal sebagai salah seorang sahabat Rasulullah, yang banyak meriwayatkan hadits, diperkirakan ada sekitar 2.630 hadits yang ia sampaikan.


Ibnu Umar, Ahli Sedekah

Ibnu Umar termasuk orang yang hidup sejahtera, ia dikenal seorang saudagar yang sukses. Namun harta yang melimpah, selalu ia bagi-bagikan sebanyak-banyaknya kepada fakir miskin dan anak yatim.

Ayub bin Ma’il Ar Rasibi bercerita, Ibnu Umar pernah membagi-bagikan sedekah senilai 4.000 dirham, lalu pada keesokan harinya ia berhutang 1 dirham, untuk membeli makanan bagi hewan yang dikendarainya.

Abu Nuaim meriwayatkan dari Muhammad bin Qais, ia berkata, “Tidaklah Abdullah bin Umar makan, kecuali bersama orang-orang miskin, hingga hal tersebut mempengaruhi kesehatan tubuhnya.”


Ibnu Umar, Penakluk Singa

Pada suatu ketika, kafilah dagangnya terhalang seekor singa. Kemudian Ibnu Umar, turun dari untanya, lantas berjalan ke arah singa itu.

Tanpa rasa takut sedikitpun, dalam jarak yang sangat dekat, Ibnu Umar menggosok telinga sang singa, seolah-olah ia sedang bernegosiasi. Dan tidak lama kemudian, menyingkirlah singa itu dari tengah jalan.

Seseorang yang mengetahui peristiwa itu merasa takjub. Ia kemudian bertanya,  ”Bagaimana caranya agar singa itu tidak menerkam Anda?”

Ibnu Umar menjawab bahwa ia pernah mendengar Rasulullah bersabda, “Jika manusia hanya takut kepada Allah, maka tidak ada hal lain yang bisa menguasainya.”

Kisah Ibnu Umar menaklukkan Singa, tercatat dalam kitab Thabaqah karya Al-Munawi dan diceritakan oleh Al-Subki dalam  kitab Hujjatullah ‘ala al-Alamin.

WaLlahu a’lamu bishshawab

Rabu, 02 November 2016

Nabi musa dan nabi khidir

Menurut Ibnu Abbas, Ubay bin Kaab, menceritakan, beliau mendengar Nabi Muhammad bersabda: "Sesungguhnya pada suatu hari, Musa berdiri di khalayak Bani Israil lalu beliau ditanya, Siapakah orang yang paling berilmu?

Nabi Musa menjawab, "Aku". Lalu Allah SWT menegur Nabi Musa dengan firman-Nya, "Sesungguhnya di sisi-Ku ada seorang hamba yang berada di pertemuan dua lautan dan dia lebih berilmu daripada kamu".

Lantas Musa pun bertanya, "Wahai Tuhanku, dimanakah aku dapat menemuinya?".

Allah pun berfirman, "Bawalah bersama-sama kamu seekor ikan di dalam sangkar dan sekiranya ikan tersebut hilang, di situlah kamu akan bertemu dengan hamba-Ku itu."

Sesungguhnya teguran Allah itu mencetuskan keinginan yang kuat dalam diri Nabi Musa untuk menemui hamba yang saleh itu.

font-stretch: inherit; font-variant-numeric: inherit; line-height: inherit; margin: 0px 0px 1.5em; padding: 0px; vertical-align: baseline;"> Di samping itu, Nabi Musa juga ingin sekali mempelajari ilmu dari Hamba Allah tersebut. Musa kemudian menunaikan perintah Allah itu dengan membawa ikan di dalam wadah dan berangkat bersama-sama pembantunya yang juga merupakan murid dan pembantunya, Yusya bin Nun.

Mereka berdua akhirnya sampai di sebuah batu dan memutuskan untuk beristirahat sejenak karena telah menempuh perjalanan cukup jauh.

Ikan yang mereka bawa di dalam wadah itu tiba-tiba meronta-ronta dan selanjutnya terjatuh ke dalam air. Allah SWT membuatkan aliran air untuk memudahkan ikan sampai ke laut.

Yusya terpegun memperhatikan kebesaran Allah menghidupkan semula ikan yang telah mati itu.

Selepas menyaksikan peristiwa yang sungguh menakjubkan dan luar biasa itu, Yusya tertidur dan ketika terjaga, beliau lupa untuk menceritakannya kepada Musa.

Mereka kemudian meneruskan lagi perjalanan siang dan malamnya dan pada keesokan paginya, Nabi Musa berkata kepada Yusya` "Bawalah ke mari makanan kita, sesungguhnya kita telah merasa letih karena perjalanan kita ini." (Surah Al-Kahfi : 62)

Ibn `Abbas berkata, "Nabi Musa sebenarnya tidak merasa letih sehingga baginda melewati tempat yang diperintahkan oleh Allah supaya menemui hamba-Nya yang lebih berilmu itu."

Yusya berkata kepada Nabi Musa, "Tahukah guru bahwa ketika kita mencari tempat berlindung di batu tadi, sesungguhnya aku lupa (menceritakan tentang) ikan itu dan tidak lain yang membuat aku lupa untuk menceritakannya kecuali syaitan dan ikan itu kembali masuk kedalam laut itu dengan cara yang amat aneh." (Surah Al-Kahfi : 63)

Musa segera teringat sesuatu, bahwa mereka sebenarnya sudah menemukan tempat pertemuan dengan hamba Allah yang sedang dicarinya tersebut. Kini, kedua-dua mereka berbalik arah untuk kembali ke tempat tersebut yaitu di batu yang menjadi tempat persinggahan mereka sebelumnya, tempat bertemunya dua buah lautan.Musa berkata, "Itulah tempat yang kita cari. Lalu keduanya kembali, mengikuti jejak mereka semula." (Surah Al-Kahfi : 64)

Setibanya mereka di tempat yang dituju, mereka melihat seorang hamba Allah yang berjubah putih bersih. Nabi Musa pun mengucapkan salam kepadanya.

Khidir menjawab salamnya dan bertanya, "Dari mana datangnya kesejahteraan di bumi yang tidak mempunyai kesejahteraan? Siapakah kamu" Jawab Musa, "Aku adalah Musa".

Khidir bertanya lagi, "Musa dari Bani Israil?" Nabi Musa menjawab, "Ya. Aku datang menemui tuan supaya tuan dapat mengajarkan sebagian ilmu dan kebijaksanaan yang telah diajarkan kepada tuan."

Khidir menegaskan, "Sesungguhnya kamu sekali-kali tidak akan sanggup bersabar bersama-samaku.@ (Surah Al-Kahfi : 67)

Wahai Musa, "sesungguhnya ilmu yang kumiliki ini ialah sebahagian daripada ilmu karunia dari Allah yang diajarkan kepadaku tetapi tidak diajarkan kepadamu wahai Musa. Kamu juga memiliki ilmu yang diajarkan kepadamu yang tidak kuketahuinya."

Nabi Musa berkata, "Insya Allah tuan akan mendapati diriku sebagai seorang yang sabar dan aku tidak akan menentang tuan dalam sesuatu urusan pun." (Surah Al-Kahfi : 69).

Dia (Khidir) selanjutnya mengingatkan, "Jika kamu mengikutiku, maka janganlah kamu menanyakan kepadaku tentang sesuatu pun sehingga aku sendiri menerangkannya kepadamu." (Surah Al-Kahfi : 70).